RSS
 

Pesta Bujang

13 Feb

Hurmm pesta bujang ya, bukankah itu kebiasaan “bule” ?, tapi mungkin beberapa hari ini seseorang berusaha untuk memanfaatkan masa bujangnya untuk memikirkan kembali keputusannya untuk menikah.

Sebut saja Aji. Aji adalah salah seorang temanku yang khabarnya akan menikah. Ok, aku ralat. Aji adalah seorang yang pernah pedekate dengan ku. Dan langsung mengajak untuk menikah dalam waktu singkat. Apakah aku senang? Ternyata lebih kearah menakutkan. Singkat kata, aku lari sejauh-jauhnya. Melakukan yang perlu dilakukan. Mengeluarkan statement-statement yang membuatnya mengerti aku tidak dapat melakukannya dibawah tekanan. Sebaiknya menikah tidak berada dibawah tekanan. Paling tidak , menikah dalam versi ku.

Hebatnya, ternyata sembari melakukan pedekate dengan ku , Aji juga sedang pedekate dengan seorang perempuan di daerahnya tinggal. Perempuan ini sepertinya sudah lama dikenal dan memang sudah pedekate lama hanya saja Aji tidak yakin dengan nya. Menurut bahasanya adalah kurang merasa nyaman. Dan Aji merasakan kenyamanan yang melebihi ekspektasinya ketika bertemu denganku. Halah..

hiha

Setelah tidak mendapatkan jawaban yang pasti dariku, Aji tanpa sepengetahuanku say yes kepada perempuan itu. Bolak-balik ku tanyakan dalam hati adakah aku menyesal dengan keadaan itu, dan jawabannya sama. Tidak terasa apa-apa. ini membuat aku yakin kalau keputusanku tentang Aji benar adanya. Aku tidak bisa memaksakan hatiku untuk beradaptasi terhadap sesuatu yang aku tidak suka. Setiap orang memiliki pilihan. Dan aku membuat pilihan itu.

Berbulan-bulan setelah itu Aji dan aku tidak berkomunikasi. Setiap kali telepon, sms dan ye em selalu kutanggapi dengan dingin. Aku tidak mau terjadi salah paham. Apalagi kena getah dari buah yang tidak aku makan. Itu akan menyedihkan jika terjadi. Aku memilih diam. Dan Aji semakin lama semakin ragu untuk menghubungiku. Dan tiba-tiba suatu hari, Aku tau dari salah seorang teman kalau Aji mau menikah. Dan aku Cuma tersenyum, thanks God aku tidak berada dalam situasi itu. Hanya saja beberapa waktu setelah khabar itu, Aji menghubungiku kembali. Hurmm…

Singkatnya Aji mengajak ketemuan. Aku setuju dan kami pun bertemu. Aku mencoba menunggu apa Aji akan mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Tapi tadaaaaa… tidak satu statement pun keluar dari mulutnya sampai makan malam berakhir. Aku ingin perduli, tapi akhirnya kuputuskan kalau Aji hanya satu dari sekian banyak laki-laki pengecut lainnya yang tidak mampu mengakui keadaan dan menghadapinya. Salah satu dari sekian laki-laki yang selalu mengatakan hidup lah yang menyeret mereka kepada kondisi. Kepada suatu situasi. Dan sebenarnya membuat mereka tidak bahagia. Tidak mau berubah dan Cuma ingin bicara-bicara saja. Situasi seperti ini semakin membosankan. Dan aku bosan terhadap kehadiran Aji. Bosan terhadap kehadiean-kehadiran laki-laki dengan tipikal serupa.

Aku percaya takdir, tapi aku juga percaya perubahan dapat terjadi jika niat dan usaha untuk berubah terus dilakukan. Niat nyata dan rencana nyata. Melakukan sesuatu untuk menjadi lebih bahagia.

Sedikit merasa kesal tidak membuatku tidak ingin bicara dengan Aji. Aku berusaha bersikap normal. Dan pertemuan kedua kali ini aku mencoba untuk bertanya. Yah siapa tau dia tidak mampu bicara karena tak pede. Aku coba bertanya, ada apa sebenarnya mau bertemu dengan ku. Tapi, lagi-lagi dia mengelak dan aku tak lagi mau perduli. Ah.. terserahlah. Setelah itu berkali-kali Aji mengajakku keluar. Seperti malam ini. Dan aku sudah 2 kali mencoba untuk membatalkan. Tentunya dengan segala cara. Tentunya dengan banyak-banyak mengingat. Aji hanya ingin menutup masa bujangnya. Dan dia tak yakin dengan pilihannya untuk menikah. Dan dia tak bahagia seperti yang dikatakannya. Aku tidak ingin berada ditengah-tengah keraguannya itu.

Pertanyaannya, perlukah menikah jika tidak bahagia?, perlukah memutuskan sesuatu untuk sekedar dijalani dengan alasan “jalani saja dulu?”, perlukah bersama hanya karena alasan “Sudah waktunya?”. Untungnya bukan aku yang berada dalam situasi itu. Dan aku juga sudah putuskan tidak ingin ikut dalam frame pesta bujang melepas masa sendirian dengan mengunjungi orang-orang yang dianggap tidak akan dapat lagi ditemui setelah menikah. Buatku menikah adalah salah satu momen yang membahagiakan, dan satu-satunya orang yang ingin selalu kudoakan untuk kutemui adalah pasanganku kelak. Dan bukannya harus merasa sedih dan susah tidak bertemu dengan para fans-fans sebelumnya. So jika waktu itu akan datang kelak, akan aku pastikan langkahku tegap dan mantap , no looking back. No pesta bujang menangisi masa single yang akan segera menghilang. Aku senang sendiri, seyakin aku akan senang memiliki pasangan, that’s a life.

 

Leave a Reply

 
 
  1. zee

    February 14, 2010 at 12:02 PM

    Banyak org merasa terikat benar dgn adanya pernikahan. Tp menurutku sih, pesta bujang seharusnya bs jd pesta penuh haru dan menyenangkan antar kita dan teman2, dan bukan pesta “kesempatan terakhir” karna tar pas merid ga bs macam2 lagi. Buatku sih ga begitu, ga ada pesta2 bujanglah wong aq aja kawen tiba2 wakakaka..eh bukan itu sih, tp krn aq yakin hidupku sebelumnya tdk akan terganggu dgn adanya perkawinan. Krn kita yg tahu spt apa batasan kita selama ini, jd harusnya itu bukan masalah. Spt katamu wid, emg seharusnya kita senang krn finally we have someone to be our partner forever (mudah2an..).
    Dasar aja si borjong itu gatal! :D
    akhirnya si gatal pulang kak wakakakak… Iya kalo emang yakin mau menikah, kenapa sok sweet sama perempuan lain or laki-laki lain. Bilang dong, “aku mau menikah” beres dah. Daripada muter-muter cuma cari-cari alesan. Alasannya … cinta oh cinta… hmm emang bikin repot.

     
  2. elz

    February 16, 2010 at 7:10 AM

    “Buatku menikah adalah salah satu momen yang membahagiakan, dan satu-satunya orang yang ingin selalu kudoakan untuk kutemui adalah pasanganku kelak.” setuju donk…nanti ku temani pun ko pilih2 lingerie…hahaha

    untuk laki2 borjong kek gitu..sebaiknya cepat2 ko “setip” namanya.. dohhh untunglah ko bilang ngga..abis kayanya dia nikah hanya karna kebelet ajah…

    sebagai wanita yang hampir sama sensitif nya dengan mu :p …saranku sebagai sahabat carilah pria..yang bukan hanya ingin menikah dengan mu..tapi juga ingin hidup selamanya dengan mu..

    els.. sebenarnya co ini bukan problem. Dan aku juga ndak mau membela diriku sebagai ce yang laku hahahah. istilahnya iiiihhh sorry ya. hehehe… bukan, bukan niatku begitu. Tapi, kalo ada laki-laki yang ndak bisa mendefinisikan dirinya sendiri mau jadi apa. Teman or more than teman. Itu membuat kesal. Ga musti disetip sih dia karena hatiku tau apa yang aku putuskan. Bisa jadi aku suka dengan co yang lebih brengsek dari dia, Tapi kucintai. Cinta ga bisa dipaksa, datang dan pergi memang tanpa mengetuk kan? Dan saat itu, tak ada ketukan di dalam sana.

    Justru kalo someday dia baca ini *ga yakin sih dia baca* aku cuma mau dia tau, dia juga udah menyakiti tunangan or calon istrinya itu. As woman, bukan satu orang kita temui yang begini hahahha.. so many jerk guys out there. So apalah gunanya kemarahan.

     
  3. elz

    February 16, 2010 at 7:18 AM

    donk..sori..sekarang lagi marak2nya anti plagiat..hehehe..
    untuk kata2 terakhir itu..sebenernya ku kutip dari propose word nya robert..hahaha

     
  4. sweety

    February 17, 2010 at 1:49 AM

    koq kyknya jlex amat tu cowx….:-)
    apah kt sbg cwex slalu bener,slalu lbh super,slalu pegang kendali thd cwox… mba?
    kdg qt jg dimata mreka/cwox lbh banyx lg kekurangannya…

     
  5. sweety

    February 17, 2010 at 1:55 AM

    pngalamakuh…cwox slalu pny cwex pembanding, kl dia pilih cwex laen brarti kt banyx kekurangannya, itu yg kdg cwox gak brani omong jujur…
    ky tmanku si ‘jelex’ ituh…

     
  6. Srex

    February 19, 2010 at 3:55 AM

    Biarlah si Aji menikmati pilihannya…mungkin dia bukannya bimbang…tapi nggak tega aja.
    Semoga dia berbahagia dg rumah tangganya.