Jangan berdiri selayaknya tugu
Kau bukan sesuatu utk diingat
Bolehlah kau beranjak bersama senjamu yang berlari kencang mengejar mentari
Bolehlah kau menghilang bersama embunmu yang menguap seiring garangnya matahari
Kau adalah hari senin yang akan berlalu setelah selasa menjelang
Sayang sekali kasihmu hanya sampai jam 24 malam
Aku berada disini 7 hari seminggu dan seterusnya
Kau disana dengan piyama barumu dan mimpi bersamaku
Bukankah itu kejam? Bermimpi dan terbangun tanpa namaku tersebut?
Bukankah itu kejam, ku bermimpi dan terbangun dan hanya namamu yang tersebut?
Ku rasa … Bolehlah kau sekarang beranjak dari beranda hatiku…
Dan nikmati senjamu menghirup angin ,,,,
Dan biarkan kanvas jiwaku mengering di balik punggungmu
Jangan perduli.
Srex
January 7, 2010 at 7:34 AM
Hembus nafasku (bukan) milikmu.
Seperti menyatukan detik jarum jam dengan sosok tugu…mengisi ruang2 kosong nan sunyi, kering, kusam.
Bermakna manakala tiada makna, berhati manakala tiada hati…
Ketegaran dalam diam beradu dengan pusaran waktu..,mencari titik temu…yang semu.
Bukan sekedar peduli.
zee
January 14, 2010 at 12:20 PM
Hmmm…
Sudah saatnya membiarkan dirinya pergi.