RSS
 

Sinetron Sabtu Malam

19 Dec

Menggelitik. Saya terdiam beberapa saat. Mendengarkannya bicara dan mengangguk-angguk seperti burung hantu saja. Hari sudah malam dan mata saya semakin perih menyetir tanpa kaca mata. Agak sedikit mengantuk, mau ngebut tapi jalanan jelek. Huh Medan, dengan jalanan yang berlubang dan tambalan aspal yang tak rata. Disebelah saya , sang adik sedang berkeluh kesah. Tentang kehidupan cinta yang berubah menjadi cerita dalam sinetron. Buruk dan bersambung. Mendayu-dayu tapi penuh semu. Intinya tak berujung dan lupa dimana pangkalnya.

Saya memberi saran, dia mendengarkan. Yang saya khawatirkan dia terlalu mendengarkan. Well perlu saya jelaskan saya dan adik saya tipe yang sangat berbeda. Benar-benar langit dan bumi. Bisa dibilang didalam kepala saya terlalu banyak simpang yang kusut dan puzzle berserakan. Perlu pembenahan tetapi lama-lama saya selalu rindu menyusun puzzle-puzzle berserakan itu. Keras, seorang pemimpi berat dan a loner. Adik saya, seorang yang logis, sederhana , dan pecinta rumah. Satu lagi dia penurut. Hehehe..

Malam ini, kami melarikan diri dari seorang pria yang mengejar-ngejarnya seperti singa lapar. Butuh daging dan jika tak dapat dipenuhi, mengaum menggetarkan kenyamanan. Iya. Seorang laki-laki lain lagi yang setelah dibahas dan didiskusikan, tetap kami tidak menemukan jawabannya kenapa seseorang yang katanya “cinta” jadi begitu memaksa. Apa sih mencintai?. Dulu ketika SMA ataupun SMP saat kita masih sama-sama deg-degan hanya melihat cowok cakep, bertanya-tanya apakah cowok ini akan melihat kita, apakah dia suka dengan penampilan kita, atau bagaimana ya cara bicara dengannya. Semua masih berwarna putih. Ada permen, ada surat-surat wangi, ada cincin imitasi, semua diberikan, dilakukan dengan alasan perasaan.

Seorang laki-laki menabung se-sen demi se-sen hanya ingin membelikan kotak musik yang pantas untuk didengarkan saat ingin tidur. Seumpamanya menggantikan meninabobokan. Juga menanti dengan sabar di depan sekolah, jalan kaki, karena belum gaya kan naek motor apalagi mobil, hanya untuk pulang jalan bersama. Hahahah… kok jaman sekarang semua itu jadi terasa sweet ya. Kok pengalaman seperti itu jadi menggelitik ya. Kemana pria-pria dengan ketulusan itu. Sudah berganti dengan pria berdasi, bermobil, membeli hadiah hanya tinggal menelpon dan tidak ada kerepotan untuk mencari karena mereka sudah penuh jadwalnya untuk remeh temeh itu. Kerja , hobi, nge gym, sosialisasi, sekolah, karir dan tebar-tebar pesona mungkin, wah sesak sekali. Penuh sekali. Rasanya semuanya jadi berasa instan. Cinta yang instan. Kehidupan yang instan. Tujuan dan cita-cita yang instan. Saya tak ingin mengakuinya hal ini terjadi. Tetapi, kenyataan menggambarkan demikian. saya ingin saja melakukan survey kecil-kecilan ke beberapa orang yang harus rela menjalani kehidupan bahwa “rasa” adalah no sekian setelah ritual makan malam. Hmm.. hidup memang pilihan. Seburuk apapun itu pilihannya.

Dilain hal Saya percaya kualitas. Hidup yang harus berubah. Berlari kencang mengejar sang waktu yang tak jua kunjung melambat. Saya percaya kualitas lebih utama dari kuantitas. Seandainya semua pasangan mengerti apa yang disebut kualitas. Seandainya lebih mengerti kualitas bukan sekedar telepon basa-basi berkelanjutan, seandainya mengerti kualitas bukan sekedar dinner in the middle of the night di resto yang luar biasa harga steaknya, juga bukan sekedar liburan keliling dunia karena ternyata kita dapati handphone adalah temen kita jalan-jalan. Double tragic. Tetapi Saya percaya kualitas untuk saling mendengar. Untuk saling bernafas dalam tarikan nafas senyaman-nyamannya, hanya karena kita tau seseorang ada disana untuk kita dan sebaliknya. Saya percaya kualitas itu. Semoga saya tak terlalu menjadi pemimpi disini.

So balik ke ngotot-ngototan, apakah ada kenyamanan dalam paksaan? Apakah telinga masih akan saling mendengar jika selalu ada politik kepentingan di balik alasan cinta? Ntahlah. Mungkin akan ada yang akan bertahan. Tapi bukan adik saya yang sederhana dan logis pikirannya J. Well done sis. Masalahnya adalah kemana dia akan sembunyi besok kalo si pria sinetron abal-abal itu datang kerumah …..

Ps : ngomong2 I’m back. Hanya butuh satu deraan ke orang-orang terkasih yang membuat jam berdetak lagi ;) . Thanks GOD.

 

Leave a Reply

 
 
  1. zee

    December 23, 2009 at 3:30 AM

    Aku percaya bahwa cinta adalah suatu proses, dan setiap proses itu adalah unik. Sebagian orang bisa hidup tanpa cinta menggebu-2 tapi cukup dengan sedikit buaian, penghargaan dan sedikit perhatian dari pasangan. Sebagian lagi suka cinta yang menggebu2 yg penuh eksistensi agar seluruh dunia tahu mereka adalah soulmate, dan sebagian lagi seperti katamu, “rasa” adalah nomor sekian yg penting semua dilengkapi. Begitulah manusia dgn segala kerumitannya.
    Proses ada yg sangat lama, ada pula yg cepat, dan mungkin itu termasuk cinta yang instan. Back to reality, ketika suatu saat datang sebuah cinta di hadapan kita, maka akan ada suatu naluri yg mengatakan, “Ok, this is it.” or, “Oh, not this one.” even bisa saja datangnya sangat instan. Kualitas memang yg terbaik Wid, tapi kualitas juga tergantung sejauh mana kita membuat batasan ttg kualitas. Gt bukan? Hihihihih…. *panjang kali bah komenku.

    ga bisa aku komen balik kak, karena dah lengkap. Exactly that’s my point.

     
  2. Srex

    December 23, 2009 at 12:05 PM

    Memahami isi otak dan benak perempuan memang susah. Kadang berbeda antara kemauan/keinginan dg yg dikatakan. Laki2 bukanlah makhluk yg rumit, mudah ditebak isi kepalanya dari sorot mata dan ucapannya. Memang ada juga yg menyukai perempuan ‘rumit’…mungkin karena terpaksa…atau tak ada pilihan lain, tapi bila bukan karena itu…bolehlah dibilang laki itu memang tulus.

    hurmm… gitu ya mas? mencintai perempuan “rumit” karena terpaksa, atau tak ada pilihan. Bukankah setiap orang punya pilihan? , apa mungkin maksudnya karena perasaan seolah-olah kita tidak dapat memilih.
    Tapi laki-laki yang aku ceritakan ini, ga penting untuk dipertahankan. hihihi…

    Buatku laki-laki tidak bisa diberikan kebebasan, juga tidak bisa dipasang tali kekang. Mungkin “rumit” bisa dipakai juga dalam hal ini. Tapi diantara semua itu, ini hanyalah masalah serendipity yang blom jua muncul.
    Dan membuktikan serendipity ini semakin lama semakin greget hihihihi….