RSS
 

Landinglah di kota kami … “ Takengon “

29 Nov

Dinginnnnnn….

Begitu sampai di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, tim harus sedikit menahan napas. Kabut tebal menutupi jalan kami menuju Takengon, Aceh Tengah. Jalan menuju kesana memang melalui jalan berkelok di pegunungan. Jarak pandang hanya kurang lebih 5 meter saja. Padahal hari sudah mau gelap. Dan dingin sudah mulai menggoda kulit. Saya langsung membayangkan, nasi putih hangat dengan asap mengepul, ikan panggang dan sambel kecap. Hahahah… dingin membuat perut kriuk-kriuk. Tapi saya harus lebih bersabar karena jalanan licin. Hal itu juga membuat sebal, karena kabut saya otomatis tidak dapat melihat pemandangan sekitar.


Perjalanan menuju Takengon, Aceh Tengah ditempuh selama kurang lebih 8 jam saja dari Banda Aceh. Berangkat siang dan malam sudah berada di Takengon. Takengon terkenal akan buah jeruk dan kopinya. Sebagian besar kopi yang berada di Aceh berasal dari Takengon.Bahkan kalau saya tidak salah malah diekspor segala. Well good for them. Tetapi tak beruntung untuk jeruk, tampaknya jeruk Takengon tidak berhasil bersaing di pasar buah. Menurut cerita orang-orang setempat, jeruk ini lebih menyerupai Jeruk Bali. Didalamnya sarat akan daging jeruk dan sedikit air, namun buahnya tidak sebesar Jeruk Bali. Hanya berkisar sebesar jeruk biasa. Ah enough cerita soal makanan. Saya semakin lapar saja.

Dalam perjalanan itu, 3 jam dari Banda Aceh, saya sampai ke suatu lereng lembah dinamakan Panglima Cut area. Konon, katanya pada saat konflik pemerintah dan separatis Aceh, lembah ini tempat membuang mayat. Hiii.. katanya lagi, setiap mayat yang disabet (read = gorok) , langsung dibuang disana. Menurut driver kantor, dia yang selalu keliling-keliling Aceh via daratpun tidak akan berani lewat tempat ini di malam hari. Banyak suara-suara yang memukau. Hihihihi…. tetapi, ini tidak mengurangi kekaguman saya akan lembahnya yang dramatis loh. Lembah yang beratus meter kebawah, dan ditutupi oleh hutan yang seperti beldu hijau, plus ketika saya lewat ada kabut yang menutupi sebagian lembahnya. Sehingga sinar matahari harus curi-curi untuk dapat menyinari sang lembah. Wow… keren. Saya ada menandai lokasinya di twitter dari BB saya, siapa tahu ada yang berminat melihat langsung. Hehe..

Perjalanan ke Takengon ini bukan yang pertama buat saya. tetapi biasanya saya tidak jalan darat. Untungnya sebelumnya saya sudah keliling kota ini. Sehingga saya sempat untuk melihat Danau Laut Tawar yang terkenal itu . Seperti kebanyakan danau lainnya, danau ini juga berair tenang. Katanya, masih terdapat ranjau yang diduga masih aktif di dasar danau pada saat penjajahan. Hurmm… apa jaman itu penjajah sempat masuk ke Aceh? Ntahlah nilai sejarah saya jelek. Tapi lebih baik tidak usahlah repot-repot membuktikan. Lebih baik segera ke rumah makan terdekat dan pesan Ikan Depik sebagai ikan khas Takengon. Ikan khas Danau Laut Tawar. Seperti apakah ikan ini dan bagaimana rasanya? Seperti Ikan Teri Medan, hanya lebih gede-gede sedikit.

Takengon dikenal dengan kota dengan lampu penerangan jalan seperti lampu landing pesawat terbang. Dan masyarakat disini bangga sekali dengan keadaan tersebut. Indah memang jika sampai ke kota ketika malam hari. Memang serasa mau landing. Karena kota berada di bawah dan kita turun dari jalan atas menuju pusat kota dibawah. Saat itu hujan sedang turun dan kabut merajalela. Saya lebih merapatkan sweater saya, pada saat makan malam sebelum menuju hotel. Jangan membayangkan hotel berbintang. Berbintang 3 pun jangan. Bayangkan kamar kos yang memiliki tivi dan air panas. Dan oh la la… malam ini air panasnya tidak hidup. Sukses lah saya tidur tanpa mandi. Hanya lap-lap sedikit dan selamat malam amigos…

 
2 Comments

Posted in Duty Trip

 

Leave a Reply

 
 
  1. zee

    December 2, 2009 at 8:04 AM

    Wid,
    Katanya takengon itu masih banyak yg angker ya.
    Masih banyak hewan jadi-jadian di hutannya… bener tak?

    dimana kak Zee dengar itu. hihihi.. aku kok ga tau.

     
  2. elmoudy

    December 6, 2009 at 4:20 PM

    hihii… angker yaa..
    jd takut gw….
    palagi lampu masih minim yaa..