RSS
 

Marathon !! ( Banda Aceh )

22 Nov

Hari pertama di Banda setelah terbang 45 menit dari Medan, saya dihibur dengan mengunjungi pantai. Lampu’uk Beach. Halah, kenapa juga jadi Bahasa Inggris. Saya akhirnya menjejakkan kaki di pantai ini. Dengan ditemani oleh seorang teman yang melarikan diri dari kantornya. Sudah lama dengar nama pantai ini. Tapi setelah berulang-ulang kali ke kota ini saya selalu tidak sempat singgah. Dan kali ini terbayar sudah. Lampu’uk di depan mata. Jangan membayangkan pantai ini memiliki resort ya. Bayangkanlah pantai pribadi yang kita miliki di dekat lingkungan rumah kita. Hanya saja yang merusak pemandangan adalah, pondok-pondok tempat minum air kelapa muda yang sangat mengganggu. Kesannya rame dan tak beraturan.

Lampu'uk

Pasir pantainya mengingatkan saya akan pantai Kuta, di Lombok. Tidak putih, tidak juga hitam. Tapi creamy, kalau diinjak lembut sekali. Airnya biru agak kehijauan begitu. Hurmmm….Yah memang beda aura sih, pantai disini dengan pantai di di Lombok. Jelas saya akan lebih milih di Lombok. Digambarnya saja sudah begitu menggiurkan. Tapi boleh dibandingkan sendiri lah dengan pantai yang ada disana. Walaupun fotonya pasti tidak memadai mengingat foto hanya diambil melalui fasilitas hp. Tetapi it’s better than never.

Tentunya trip ini bukan sekedar cerita saya mengenai tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi. Tapi saya kesini dengan misi. Misi mengeliminasi. Alias mendampingi tim independent untuk evaluasi dan akhirnya akan mengeluarkan hasil untuk mengeliminasi. Sedihnya akan mengeliminasi setengah daripada isi kantor ini. Tapi, bukan berarti saya tak bisa terkena loh. Sebelum mencemplungkan diri bekerja dalam project, hal ini sudah saya pahami. Namun tidak begitu dengan sebagian besar teman-teman yang bekerja disini. Well bisa jadi karena tempat ini satu-satunya untuk menggantungkan harapan mata pencaharian. 2 malam saya di Banda , semua hanya berkisar tentang kerjaan, istilahnya hanya sekedar pindah tempat kerja. Orderan kerjaan masih terus berdatangan via sms, telp dan email. Huaaaah…

Hari ketiga, saya dan tim bersiap-siap akan berangkat ke Takengon, Aceh Tengah. Tim melakukan interview agak ngebut. Bolak-balik saya ditelpon big boss menanyakan tentang situasi tim. Bagaimana kinerjanya. Wah saya jadi bingung mau jawab apa. Jika kita berangkat dengan minim informasi, dan diharuskan berangkat tanpa diberi kesempatan untuk bertanya kira-kira apa yang akan kita lakukan dalam perjalanan ini, wajarkah saya sekarang bingung karena pertanyaan-pertanyaan si bos? Menanyakan tentang keberadaan tim dan kinerjanya? It sounds like a spy working for me.

Ah ya ini dia, setiap ke Banda Aceh, rasanya tidak lengkap tanpa menyinggah di tempat makan yang menjual sajian “ayam tangkep”. Saya rasa hampir semua orang yang ke Banda akan dibawa ketempat untuk makan sajian ini. Agak lucu kalau melihat sajiannya. Ada ayam dipotong kecil-kecil dan digoreng yang dimasak dengan berbagai daun-daun rempah. Lucunya adalah daun-daunnya banyak sekali. Sehingga kalau mau makan ayamnya, harus dibek-ubek dulu ke dalam daunnya. Harganya? Hurmm cukup mahal sih. Sayang saya lupa ambil fotonya. Keburu laper banget kemarin. Jadi langsung deh nge gas terus. Hihihi…

Tapi  walaupun begitu , paling tidak saya punya oleh-oleh foto-foto di pantai. Lumayan lah untuk menutup trip saya di Banda Aceh.Buttt..buttt… ngebut to Takengon.


 

Leave a Reply

 
 
  1. elmoudy

    November 24, 2009 at 3:09 AM

    sebetulnya saya mau komen,
    kalo desainnya saya lebih suka sebelumnya…
    lebih trasa ada bintang di langit… ~__~

    hehehe bener sih, tapi dont worry..masih searching2 yang laen kok ;)

     
  2. zee

    November 26, 2009 at 8:07 AM

    Sejak aku di Medan malah belum pernah main ke Aceh lho Wid, baru kusadari itu setelah aku sekarang di Jakarta. Padahal kalau aku kesana, berarti sedikit lagi aku bisa ke Sabang, lalu pas sudah dari Sabang sampai Merauke :D .

    Tiap pantai pasti beda aura ya wid. Dan aku, ya, aku juga akan memilih Lombok :) .

    ah aku juga karena kerja kan kak, one day.. aku akan me list, pantai mana aja yang sudah kurambah. Hahahahah…. so damn exciting kak.
    Mudah-mudahan masih sempat ke Sabang and sampe ke kilometer 0 yang terkenal itu