Semua yang kusentuh, bermekaran. Titik titik membentuk lingkaran sempurna yang kusebut “passion” . Diantara mitos-mitos bintang jatuh, aku tak percaya, berdoa saja sudah cukup.
Ini lucu dan ironis. Ketika aku memutuskan untuk melakukan lompatan besar dalam hidup. Ternyata itu adalah hal biasa. Namun orang lain melihatnya sebagai suatu yang huge yang dapat diputuskan oleh seorang aku. Seperti kemarin. Aku memutuskan untuk resign dari tempatku bekerja. Buatku, hari ini harus diakui sebagai hari yang bahagia dan terbaik. Tentu terbaik dari hari kemarin. Spirit dan motivasi seperti ini sengaja dibangun untuk membuat kepala stay positive. Tetapi buat sebagian besar orang lain, keputusan ini cukup disayangkan.
Here is the story. Tidak gampang untuk menjadi positif. Tidak gampang untuk menjadi optimis. Read the rest of this entry »
Aku mengerti, jarak adalah alasan. Seperti yang selalu kita katakan kepada malam, yang memisahkan hari kita, seperti yang selalu kita katakan kepada laut yang mencerai tempat kita. Alasan selalu ada diantara cerita-cerita kelabu kita. Ada masanya saat hujan turun dan pelangi pun memburaikan mataku dari kegelapan. Betapa sinarnya, menghangatkan sore yang penghujan. Selalu kau salahkan gerimis. Selalu kau salahkan angin. Yang membawamu jauh. Yang membasahi dan meramus istana pasir di hatiku, katamu.
Dan hari itu, kita lagi-lagi mencari alasan. Akan kebersamaan. Akan keterikatan. Katamu semua punya alasan. Mengapa matahari dari timur dan rembulan lebih memilih di barat. Semuanya memiliki alasan. Begitu juga saat kau meninggalkanku dalam hujan. Kau punya alasan. Kau kambing hitamkan takdir. Kau ajak aku turut mengkambinghitamkan takdir. Seperti para pesakitan lainnya. Seperti para pengejar alasan lainnya.
Kalau takdir, mengapa kau datang dalam mimpi-mimpi malam hariku. Kalau takdir, mengapa kau coba meraihku dalam kerapuhanmu. Ah seandainya aku memiliki alasan untuk tidak berada disini. Tidak berada dimana kau selalu mendapatiku membangun istana pasir yang lain. Tidak berada di dekat hujanmu yang mengkorosi hatiku. Seandainya saja aku punya alasan.
Tapi tidak, tidak dalam seribu tahun. Tidak sampai cerita ini berakhir. Aku tidak memiliki alasan-alasan itu. Aku hanya tau hitam dan putih. Seperti cerita jaman dahulu. Hanya bergerak dalam frame warna yang jemu. Bukankah aku memiliki alasan untuk jemu?. Jemu menunggu mataharimu, jemu menjadi diriku, ah percuma saja kita bicara, kita buta aksara. Sedikit yang terdefinisi, lebih banyak aksara yang melukai. Tak ada yang lebih baik buat kita katamu. Tak ada pilihan. Seperti katamu. Selalu tidak ada pilihan. Tak ada pilihan selain meninggalkanku bersama hujanmu. Bersama argumentasi tak berdasarmu. Bersama kebisuan abadimu. Bersama pasukan pelangimu. Bersoraklah di kerajaan gemuruhmu. Dan meredam suaraku di dalamnya.