RSS
 

Archive for October, 2009

Seperti mereka yang mencintaiku

19 Oct

Jangan… jangan mencintaiku seperti mereka yang mencintaiku

Jangan berlutut, di depanku. Jangan pula angkatkan tas bututku.

Tak usah kirimkan aku bunga, bunga mawar ataupun bunga bank juga.

Bunga membuatku bersin, dan alergi saja.


Jangan…. Jangan mencintaiku seperti mereka yang mencintaiku

Kirimkan lagu cinta, dalam cd bersampul lelehan gula-gula mesra

Kirimkan puisi , bergelimang kata-kata setia

Kata-kata hanya membuat hatiku basah sehari saja


Jangan… tolong jangan mencintaiku seperti mereka yang mencintaiku

Mencatat langkah-langkahku

Merekam setiap senandungku

Tolong jangan…


Tapi…

Cintaiku dengan hal yang termahal yang bisa kau berikan

Gantungkan keyakinanmu atas sebentuk kasihku

Korbankan duniamu atas secuil kisah yang kubeberkan dihari-harimu

Cintaiku dengan hatimu yg Cuma satu itu.


Jangan mencintaiku seperti mereka mencintaiku…

Tolong Jangan ….

 
 

Ah susahnya menjadi diri sendiri.

11 Oct

Kemarin dan kemarinnya lagi, pertanyaan yang sama terus mengusik pikiran saya yang kelabu. Yaitu apa yang membuat saya tidak berhenti, jika saya tidak menyukai sesuatu. Misalnya saja ; saya tidak suka jalan-jalan dengan si A, saya tidak suka menghabiskan waktu mengobrol dengan si B, saya tidak suka si C mengikuti kegiatan saya terus di dunia maya, dan banyak lagi yang lainnya. Dan saya datang dengan satu kesimpulan mengapa saya tak jua berhenti jika saya tidak menginginkan melakukan sesuatu, alasannya karena saya makhluk sosial yang mengenal toleransi. .

Beberapa minggu yang lalu saya berbicara dengan seseorang, tepatnya sedikit berargumentasi mungkin. Dia mengatakan “apakah salah mengatakan hal yang sejujurnya”. Saya jawab Sama sekali tidak salah. Hanya terkadang kejujuran keluar dalam bahasa yang terlalu tegas. Sehingga telinga yang mendengarnya , hati yang merasanya, tergores karena bahasa. Ah betapa mirisnya. Hanya untuk mendapatkan kejujuran, kita harus melalui garis luka. Jika ditilik lagi hal yang diperdebatkan ini, sebenarnya apa sih yang membuat kita tidak memilih jujur dibandingkan berbohong saja. Apalagi jika diikuti dengan alasan “demi kebaikan” . Bohong putih. Bohong sedikit. Biar tidak ada kekacauan. Biar tidak ada api kemarahan dimana-mana. Saya setuju dengan bohong putih jika tidak ada keterikatan emosional antara yang dibohongi dengan yang berbohong. Misalnya, berbohong kepada atasan sedang berada di Bank padahal sedang di jalan sehabis lihat butik baru. Sekali-kali bolehlah. Tidak ada keterikatan emosional disana, hanya keterikatan pekerjaan. Tetapi berbeda ceritanya jika kita memiliki keterikatan emosional. Bohong putih pun lama-lama bisa menjadi kelabu.

Read the rest of this entry »