<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dilangit Ada Bintang</title>
	<atom:link href="http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dilangitadabintang.com</link>
	<description>Semua yang kusentuh, bermekaran. Titik titik membentuk lingkaran sempurna yang kusebut "passion" . Diantara mitos-mitos bintang jatuh, aku tak percaya, berdoa saja sudah cukup.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Aug 2010 17:30:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Memang Lebih enak men &#8211; judgment</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=340</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=340#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 17:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mikir-Mikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Barusan saya membaca kembali blog dee mengenai warna-warni kaca hati. sambil mengingat-ingat potongan demi potongan kejadian yang terjadi belakangan ini. Sebagai seorang manusia , tentu saja saya membutuhkan orang lain untuk berbagi. Baik itu keluarga  atau teman-teman. Rasanya sulit membayangkan hidup tanpa siapa-siapa. Dalam Blog Dee saya mengerti yang dia maksud mengenai kaca hati. sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barusan saya membaca kembali blog dee mengenai warna-warni kaca hati. sambil mengingat-ingat potongan demi potongan kejadian yang terjadi belakangan ini. Sebagai seorang manusia , tentu saja saya membutuhkan orang lain untuk berbagi. Baik itu keluarga  atau teman-teman. Rasanya sulit membayangkan hidup tanpa siapa-siapa. Dalam Blog Dee saya mengerti yang dia maksud mengenai kaca hati. sebagai manusia, kita tidak dapat menghindari masalah. Kemalangan yang terjadi. Atau bahkan keberuntungan dalam hidup. Setiap manusia memiliki argumentasi tersendiri mengenai pilihan dalam menjalani kehidupan.  Baik itu dinilai salah, benar, wajar ataupun tidak wajar. Kehidupan tidak pernah berhenti di satu titik sampai seseorang mati. Rasanya ideal sekali jika kita dapat menemukan komunitas, baik itu keluarga ataupun teman-teman , yang mengerti apa saja yang kita rasakan, mendukung apa yang kita lakukan, dan menerima kita seperti apa adanya kita. Tapi memang benar adanya, kondisi ideal itu tidak akan pernah ada. Dan kita menilai melalui kaca hati kita.</p>
<p>Memang lebih enak melakukan judgement. <span id="more-340"></span> Si A mengesalkan, si B penipu, Si C pemboros. Selalu lebih mudah menunjuk daripada ditunjuk. Walaupun terkadang tanpa kita sadar , apa-apa yang kita tunjukkan kepada orang lain suatu hari entah bagaimana caranya selalu berbalik ke diri kita sendiri. Saya saksi nya. Dulu saya merasa being a mess is an art.  Saya selalu merasa tersiksa menjadi seorang yang rapi dan teratur. Namun seiring jalannya waktu,  sekarang saya seperti dikutuk menjadi orang yang gila keteraturan. Saya sampai dibilang ga praktis oleh teman-teman saya. Karena ketika travelling saya selalu merapikan baju yang telah dipakai langsung  dilipat masuk kedalam koper. Saya tidak suka kondisi diburu-buru. Makanya saya selalu well prepare. Itu hanya contoh. Bahwa judgement akan dapat berbalik menumpahi muka kita sendiri.  Berbekal introspeksi itu, saya pun mulai belajar untuk bisa menerima berbagai keadaan. Keadaan saya sendiri, keluarga maupun teman-teman.</p>
<p>Benar yang dikatakan Dee, setiap hati punya lensa sendiri-sendiri untuk menilai. Terlepas itu adalah kebenaran, suatu fakta, atau Cuma asumsi belaka. Yang penting, apa-apa yang ada di dalam hati dan kepala sepertinya menjadi suatu urgensi untuk dikeluarkan kepada siapa saja yang mau mendengar. Mungkin karena itu gosip menjadi “wajar” untuk ditumbuh kembangkan. Tanpa perduli bahwa setiap manusia punya hati, bisa merasa sakit, bisa merasa diabaikan. Mungkin saya adalah salah satunya. Mungkin saya juga menzolimi sesama. Saya perempuan dan saya yang tahu seberapa jauh saya telah dengan gampangnya “menjudgement”. Saya mungkin sering menjadi subjek yang melakukan judgment.  Tapi hanya masalah waktu dan akhirnya kita semua akan menjadi objek.</p>
<p>Reaksi dari setiap judgement biasanya kalau tidak marah ya sedih.  Saya pernah punya eks bos orang India. Asli dari India. Setiap kali ada yang salah dengan pekerjaan saya , atau bahkan tidak sesuai dengan yang dia inginkan , saya selalu mendapatkan kritikan. Awalnya saya sempat bosan. Nih orang tidak pernah tau apa yang dia inginkan. Selalu berubah-ubah dan saya yang dapat getahnya dikritik terus-terusan. Tetapi kritikan juga punya 2 mata pisau. Menghancurkan atau malah menguatkan. Syukurnya saya bisa menjadi lebih mengerti apa yang dia inginkan dengan komunikasi yang jujur. kesalahpahaman bisa diminimalisasi dengan pengungkapan yang baik. Saya jadi mulai mengerti apa yang dimaksud Dee dengan melakukan komunikasi sejati. Menerima seseorang atau suatu keadaan tanpa asumsi awal sangat diperlukan untuk melakukan komunikasi sejati. Tidak ada manusia yang sama, baik dalam  Cara berpikir ataupun mengambil keputusan. Sebaiknya perbedaan memang bukan untuk disama-samakan. Untuk itulah diperlukan komunikasi yang jujur. Untuk mengungkapkan perbedaan dan mencari irisan jalan keluar yang terbaik untuk masing-masing individu. Jika tidak cocok ya terpaksa membubarkan diri dengan damai.  Komunikasi yang jujur tidak akan terjadi jika sebelumnya sudah ada asumsi, prejudgement, dan ketidakperdulian. Komunikasi yang jujur mungkin seperti sebuah buku kosong terbuka yang siap kita tulis dengan baik dan hati-hati.</p>
<p>Namun tidak dapat kita pungkiri kalau kita hidup dalam lingkup sosial yang pengap. Terkotak-kotak dan selalu ada standarisasi.  Si A salah kalau begini, si B salah kalau begitu, si C bodoh banget kalau melakukan itu, dll. Selalu saja ada yang salah. Setiap kali ada yang berbeda dari kebiasaan, biasanya akan dinilai  aneh dan minus. Entah mengapa bisa begitu. Terkadang yang  kita anggap benar hanya  dilihat dari kacamata kita saja.Dan biasanya kita lupa untuk melihat dengan jiwa ataupun mendengar dengan hati. Kita lupa agar membawa cermin diri kemana-mana.</p>
<p>Saya sadar, kesempuranaan itu tidak ada. Saya pun mencoba untuk  berkompromi dengan semua hal.  Dalam hati saya sekarang , semoga saya selalu mampu untuk jujur dalam berkomunikasi. Tidak berharap menjadi sama dengan orang lain, hanya berharap selalu bersama dengan orang-orang yang saya sayangi.  Semoga setiap kali saya ingin menjudgment saya akan melihat cermin dan berkaca dulu. Dan semoga saya selalu dibesarkan hatinya untuk memaafkan jika seseorang melemparkan judgment.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=340</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangkok &#8230; Diantara Temple  dan Dinner Cruise dari Negeri India</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=329</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=329#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 12:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Little Story of travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Bangkok atau Thailand mungkin memang terkenal dengan Temple-temple nya. Hal pertama yang kami lakukan ketika sampai di Bangkok adalah membaca petunjuk bagaimana mengikuti tur lokal untuk menyaksikan temple dengan mata kepala sendiri.  Kami sampai di Bangkok masih pagi. Flight dari Phuket ke Bangkok tepat jam 7 pagi. Sementara dari daerah penginapan di daerah Patong ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangkok atau Thailand mungkin memang terkenal dengan Temple-temple nya. Hal pertama yang kami lakukan ketika sampai di Bangkok adalah membaca petunjuk bagaimana mengikuti tur lokal untuk menyaksikan temple dengan mata kepala sendiri.  Kami sampai di Bangkok masih pagi. Flight dari Phuket ke Bangkok tepat jam 7 pagi. Sementara dari daerah penginapan di daerah Patong ke Airport di Pusat Kota Phuket memakan waktu kurang lebih 45 menit ditempuh dengan kecepatan 100 – 120 km / jam. Jauh? Yap bener jauh. Saya dan teman-teman yang lain sampai deg-deg an. Namun tepat Jam 5 Pagi, taksi sudah menunggu di depan lobby. Di Phuket, taksi tak berlisensi banyak banget. Namun benar-benar dapat dipercaya. Saya memesan taksi di kios tur and travel yang banyak terdapat di pinggiran jalanan Patong satu malam sebelumnya. Taksi kami booking untuk menjemput kami dan mengantarkan ke Airport. Dengan kondisi beberapa tas yang besar dan penumpang 4 orang,  kami dijemput dengan taksi Avanza dengan supir cewek! Bravo. Dan doi enggak banyak bicara langsung bantu-bantu angkat barang dan ngebut ke airport. Keren&#8230;</p>
<p><span id="more-329"></span></p>
<p>Karena penerbangan lokal, kami tidak perlu repot masuk ke bagian imigrasi kembali.  Dan hampir sejam kemudian kami sampai di Suvarnabhumi Airport , Bangkok.  Suvarnabhumi ini benar-benar besar. Dan karena kami sampai jam 8 pagi di Bangkok, masih pagi sekali sehingga suasana airport masih sangat lengang. Seperti biasa, Saya kedinginan dan jadi kelaparan. Mana harus jalan cukup jauh di dalam Airport tersebut. Keluar airport langsung check in ke hotel. Beruntungnya kami diperbolehkan langsung check in . Padahal sampai di Hotel masih pagi sekali sekitar jam 9. Kami menginap di daerah Petchabury Road. Dekat dengan Siam Square. Pusat perbelanjaan. Wuhuuu&#8230;</p>
<p>Tapi karena niat awal adalah temple visit, so sehabis check in kita langsung ingin ikut boat tour yang bisa melihat langsung temple di daerah pinggiran sungai Chao Phraya.  Sayangnyaaa&#8230; kita tertipu. Dari beberapa blog dan beberapa buku yang kami baca, memang di Bangkok  harus sedikit berhati-hati. Banyak supir taksi yang nakal. Seakan-akan membantu padahal yang dia kerjakan hanyalah mengarahkan kita ke tempat tur and travel yang akan memberinya fee ketika ada turis yang ikut travel tersebut. Seperti kejadian Saya dan teman-teman. Kami sebenarnya sudah mengatakan mau menyeberang dan ikut boat tour seharian atau yang setengah harian untuk menyaksikan floating market dan singgah ke beberapa temple yang terkenal di pinggiran Sungai Chao Phraya, namun ternyata setelah deal dengan ongkos taksi yang terbilang sangat murah, kami tertipu mentah-mentah.</p>
<p>Sang supir mengatakan ongkos taksi ke pinggir sungai tersebut hanya Rp 15 rb saja. Saya pun agak bingung , kok murah banget. Nah , kalau suatu hari k hati kecil mengatakan tidak, saya akan ingat-ingat untuk selalu mengikutinya. Karena yang terjadi ketika kami masuk dan duduk di dalam taksi adalah sang supir mengatakan kalau dia akan singgah sebentar mengantarkan kami masuk ke dalam pusat pembuatan dan penjualan perhiasan di Bangkok. Ahhh&#8230; buang waktu deh. Yang akhirnya membuat kantong saya koyak 700 Bath untuk beli Cincin, hehehe ga penting.  Setelah itu, ternyata kami tetap ga bisa ikut boat tour karena&#8230;. sang supir mengantarkan kami ke sisi sungai dimana ada satu tur and travel yang sepertinya tidak resmi  yang menjual tiket naik boat seharga 500 bath/ orang. Wah gila aja. Sementara yang kita baca hanya sekitar 200 bath. Langsung kita ngambek dan misuh-misuh bicara untuk ga melanjutkan perjalanan dengan boat.  Dan melemparkan tatapan marah ke supir taksi sialan yang menipu kita. Masalahnya kita ga tau, dia membawa kita kemana. Terpaksalah kita harus naik taksi dia lagi ke Grand Palace. Ongkos taksinya? Yah jelas dibuatnya lebih mahal dan ga pake meteran taksi. Huh!. Satu lagi, kalau di Bangkok cari taksi yang pake meteran atau argo. Tanya dulu sebelum naik. Karena kalau setelah naik yah sudah kadung terlambat <img src='http://dilangitadabintang.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Grand Palace adalah satu tempat dimana Raja membangun pusat pemerintahan dan pusat pemujaan bagi Sang Buddha. Tempatnyanya benar-benar luas. 218.00 m?. Dengan temple-temple yang mempesona. Megah dan emas. Emas dan raksasa. Rasanya sampai menyentuh ke langit. Dengan kamera poket saya, semuanya jadi tidak mungkin untuk diabadikan fotonya. Ga muat di layar <img src='http://dilangitadabintang.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Di Grand Palace ini, tidak boleh masuk dengan pakaian yang kurang pantas. Seperti celana pendek, kaos kutung, kaos kelihatan puser, dan jeans sobek. Salah satu teman saya lupa kalau kita akan mengunjungi temple, so celana pendeknya itu harus diganti dengan celana panjang. Yah bisa minjem sih di kantor peminjaman celana atau baju di tempat tersebut. Namun harus kasi deposit sekitar 1000 bath kalau saya tidak salah.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-330" title="Di depan Temple" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG_1233-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /><br />
Masuk kedalam temple yang akan kita temukan adalah patung Buddha dan lagi-lagi patung Buddha. Banyak banget. Interior hampir kelihatan sama. Warna juga hampir sama. Semua didominasi dengan warna emas. Hanya di Grand Palace ini juga terdapat satu kantor pemerintahan jaman dulu. Sehingga gedung-gedung tua nya menjadi daya tarik tersendiri. Eh ketika masuk temple harus buka sepatu loh. Jadilah kita harus menghirup udara bau kaki dari pejalan kaki yang lain iiih. Mana suasana panas membakar lagi. Namun, di tempat ini disediakan kran untuk ambil air minum langsung dari mata air. Karena haus, yaa akhirnya kita harus merasakan air rasa tanah itu. mudah-mudahan ga terjadi apa-apa.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-333" title="Depan Temple" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG_1222-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></p>
<p>Sebenarnya, banyak sekali di Grand Palace ini tempat untuk dilihat, lengkap dengan sejarahnya. Karena ketika masuk dan bayar tiket kita dikasi buku petunjuk. Jadi kalau tidak ingin pakai guide lokal ya harus baca. Tapi karena bentuk temple nya hampir sama,kok kita jadi agak bosen yah. setengah perjalanan sisa di Grand Palace, kami lewatkan dengan bercanda dan mulai ga fokus dengan tujuan awal. Apalagi ketika kami tidak mampu membedakan kenapa Patung Buddha A dibuat, di tempat yang sama namun beda temple. Sudahlah kami menyerah kepada alam yang membakar kaki dan tenggorokan.</p>
<p>Diluar Palace, banyak sekali tuktuk dan taksi yang menunggu para turis. Namun di dalam Palace sendiri kita diingatkan untuk tidak percaya kepada supir taksi dan tuktuk yang menawarkan jasa mereka untuk mengantarkan turis ke tempat khusus, mungkin disini memang banyak penipuan ya. Contohnya saja penipuan kedua yang terjadi adalah ketika kami sampai pas di depan jalan menuju Grand Palace, ada satu taman yang banyak sekali merpatinya. Dan seorang ibu-ibu dan abang-abang memberikan kami bungkusan berisi jagung kering untuk makanan burung-burung tersebut. Mereka  mengisyaratkan untuk memberikannya kepada burung-burung tersebut. Dasar saya ga bisa lihat binatang kumpul dan menjadi gemas, saya langsung menuang jagung kering tersebut yang isinya sedikit sekali itu, dan tebak apa yang terjadi setelah jagungnya habis, saya harus bayar 15 rb per plastik kecil. Doooh.. tertipu lagi deh.</p>
<div id="attachment_334" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-334" title="Tertipu Burung" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG_1205-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Tertipu Burung</p></div>
<p>Sebenarnya saya pergi ke beberapa temple yang lain, hanya saja saya  lebih tertarik dengan pengalaman dinner cruise di sungai Chao Phraya.  Akhirnya setelah tahu banyak sekali penipuan yang dapat terjadi seterusnya, kami memutuskan untuk pesan dinner cruise di tour and travel. Per orang nya Rp. 285.000, ga tau apakah itu mahal atau murah. Tapi secara umum , makan di dek kapal , makanan halal, seafood bertaburan, untuk hampir 3 jam diiringi live music ( ide awalnya) menurut saya tidak terlalu mahal sih. Rata-rata lah. Namun dinner romantis yang saya inginkan hanya tinggal harapan saja.  Karena harus makan makanan yang halal, maka kami disatukan dengan penumpang dari India dan Arab. Penumpang Arab sih baik budi, hanya penumpang India yang besar-besar itu yang agak rusuh . Ketika waktu makan dibuka, mereka berbondong-bondong makan menyerobot. Karena makannya prasmanan, terpaksa kami yang kecil-kecil ini mengalah. Dan sebelum waktu menikmati angin malam terpuaskan, para indihe ini mengambil alih live music dan keluarlah lagu Indiaaaaa. Jeng jeng&#8230;</p>
<div id="attachment_335" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/07/page.jpg"><img class="size-medium wp-image-335" title="Dinner" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/07/page-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Dinner &quot; Indihe&quot; Cruise</p></div>
<p>Semua orang turun ke dek. Dek yang tadinya sepi hanya berisi kami dan beberapa pasangan lainnya langsung heboh. Mereka menari, berjoget, menyanyi, foto-foto dan mulai merambah duduk di meja-meja yang tak berpenghuni.  Bau minuman keras mulai tercium dan saya mulai kehilangan mood. Wadow kenapa jadi begini. Saya mulai iri dengan kapal lain yang adem ayem, dengan candle light dinner nya. Tadinya saya pengen bengong sambil nyemil udang or kepah telur, tapi langsung perut berasa penuh. Dan makanan jadi malas dimakan. Dan sisa perjalanan kami harus mendengarkan lagu India + joget joget nya dengan perasaan ngantuk dan bosan. Seperti menghadiri acara kawinan orang India saja. Bahkan ketika sang penyanyi mengganti lagu menjadi lagu-lagu top 40 mereka langsung request lagu India lagi. Yah nasib lah, mau romantic dinner tapi yang didapat justru  jadi heboh dinner kuadrat ala Indihe hehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=329</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta itu Aneh</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=326</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=326#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 16:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Cinta itu aneh. Cinta itu memang punya banyak wajah. Indah, menyenangkan, menyakitkan, membosankan dan aneh adalah salah satunya. Tadi di TV ada iklan konser Usher. Dulu Usher adalah salah satu penyanyi kesukaan saya. Enggak ganteng. Tapi dance nya keren. Dan lagunya lumayan groovy. Enak untuk ngedance. Namun entah mengapa, di salah satu lagu, ketika saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta itu aneh. Cinta itu memang punya banyak wajah. Indah, menyenangkan, menyakitkan, membosankan dan aneh adalah salah satunya. Tadi di TV ada iklan konser Usher. Dulu Usher adalah salah satu penyanyi kesukaan saya. Enggak ganteng. Tapi dance nya keren. Dan lagunya lumayan groovy. Enak untuk ngedance. Namun entah mengapa, di salah satu lagu, ketika saya putus, lagu ini menjadi curahan hati si dia. Dan saya pun jadi males berat dengerin Usher lagi. Lah alasannya kenapa? Yah itulah keanehannya, saya juga ga tau kenapa saya jadi mem black list si Usher. Hanya karena saya rasa, lagu itu begitu mengena. Dan I feel stupid kalo harus mendengar Usher lagi. Sorry ma men..<br />
<span id="more-326"></span><br />
Hal serupa menimpa Alicia Keys, dan saya yang tadinya nge fans berat dengan perempuan ini jadi malas banget denger dia nyanyi. Especially one particular song. Gara-gara, kita suka lagu ini bareng-bareng dan lagu ini sedih banget menurut saya.</p>
<p><em>If I had no more time<br />
No more time left to be here<br />
Would you cherish what we had?<br />
Was it everything that you were looking for?</em></p>
<p>Dan ketika saya menulis postingan ini pun saya jadi sedikit menjadi ikut-ikutan melow. Jadi berasa makin aneh. Dulu sampe-sampe saya buat lagu ini jadi ringtone. Hanya supaya saya mengerti kenapa ya ada orang yang menciptakan lagu sedih-sedih. Apalagi tentang cinta. namun ya hidup memang naik turun. Cinta juga begitu. Kalo up terus jadinya boring. Kalo down terus jadinya capek. Dan lagu ini sukses membuat saya tak ingin mendengar Alicia Keys lagi. Well paling-paling yah sekarang ini Cuma sekedar tahu sedikit-sedikit saja. Aneh? Lumayan. Karena saya menjadi kecewa, kenapa Alicia Keys harus ciptakan lagu itu. Yang menurut saya si dia curhat lewat lagu itu.</p>
<p>Memang gara-gara cinta kita bisa semangat ya. Semangat kerja, semangat ngumpulin lagu, semangat bicara, semangat untuk menjadi lebih baik dimatanya, dan seolah-olah tujuan hidup kita sudah benar karena kita memiliki seseorang to share with. Tapi gara-gara cinta kita juga bisa menjadi pribadi yang aneh. Misalnya berubah demi seseorang, menjadi galak, menjadi sensitif, menjadi ga lucu lagi, menjadi tiba-tiba suka cuci mobil sendiri, makan roti dengan selai kacang , dan hal-hal lainnya yang bisa dikatakan “not so me action” .  Saya jadi sering mikir,  cinta itu kan seharusnya sesuatu yang baik ya, Cuma kadang kok ouputnya sering kebalikannya. Di kasus saya, hasilnya adalah kerugian sedikit untuk penyanyi-penyanyi di atas. Juga kerugian bagi tempat-tempat makan yang biasa kami datangi karena sudah jelas saya malas datang kesana lagi. Malas ditanyain. Harus basa-basi.</p>
<p>So Cinta itu memang aneh. Cukup aneh sampe-sampe saya ga pengen lagi ada lagu yang dikatakan &#8220;uh that is so me song&#8221;, especially kalo saya sedang sedih. Sebagai gantinya, kalo sedang melow saya cepat-cepat kumpulin piring kotor and nyuci piring , atau pilihan lainnya nge-dance, ga perduli kalo itu tengah malam, atau minum air banyak-banyak sampe mata ngantuk. Aneh? Yaah Cinta memang aneh, apalagi jika hidup tanpa cinta, akan lebih aneh lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=326</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana caranya mencintaimu</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=323</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=323#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 17:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana caranya mencintaimu&#8230; Tanpa menghentikan hujan, tanpa menantang matahari Bagaimana caranya mencintaimu.. Tanpa membenci rembulan,  tanpa mengabaikan desah dedaunan Aku tak tahu caranya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana caranya mencintaimu&#8230;</p>
<p>Tanpa menghentikan hujan, tanpa menantang matahari</p>
<p>Bagaimana caranya mencintaimu..</p>
<p>Tanpa membenci rembulan,  tanpa mengabaikan desah dedaunan</p>
<p>Aku tak tahu caranya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=323</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terkunci Asumsi</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=316</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=316#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 13:28:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mikir-Mikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya sulit dipercaya. Waktu akan menyembuhkan luka. Namun, jika waktu akan membuat ingatan menjadi kabur mengenai suatu peristiwa , ya saya percaya. Kemarin saya bicara dengan Ang. Saya lupa kapan kami bicara-bicara tentang hati. saya suka berteman dengannya karena terkadang saya tidak perlu mengeluarkan banyak kata-kata. Kita bisa tertawa atau nangis bersama. Orang-orang selalu mengatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><br />
Rasanya sulit dipercaya. Waktu akan menyembuhkan luka. Namun, jika waktu akan membuat ingatan menjadi kabur mengenai suatu peristiwa , ya saya percaya. </em></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-317" title="Open the key" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/06/bling-bling.jpg" alt="" width="300" height="300" /></p>
<p>Kemarin saya bicara dengan Ang. Saya lupa kapan kami bicara-bicara tentang hati. saya suka berteman dengannya karena terkadang saya tidak perlu mengeluarkan banyak kata-kata. Kita bisa tertawa atau nangis bersama. Orang-orang selalu mengatakan saya dan Ang adalah pasangan. Ang sayang dengan saya, Cuma memang saya terlalu keras kepala. Dan saya perduli dengan hidup Ang, hanya kadang benci dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Namun kami adalah keluarga. Dan waktu membuat ingatan saya tentang kemarahan menjadi kabur. Dan itu benar adanya.<br />
Ang sudah seperti adik saja. Ang sering minta uang, sering minta dibeliin rokok, bahkan nangis bareng waktu dia putus sama pacarnya yang kejam itu. Hehehe&#8230;. pacar-pacar saya suka cemburu melihat kedekatan saya dengan Ang. Sulit dijelaskan kenapa saya selalu membela Ang. Seperti yang saya katakan, Ang seperti adik saja. Keluarga pasti akan saling membela bukan?</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya kecewa berat dengan Ang. Layaknya seorang kakak yang terluka egonya. Saya melihat Ang selalu take it for granted dengan saya. Sebagai kakak yang gila memberi pengaruh yang baik, saya yakin Ang boring berat. Akhirnya kami menjadi dua orang asing yang saling malas memberi kabar. Apalagi ketika Ang sudah tidak lagi berada di kota yang sama. Saya memutuskan untuk tidak memperdulikan Ang lagi. Saya merasa Ang sudah dapat mandiri. Sudah bekerja dan tidak lagi memerlukan saya. Tidak lagi perduli kalau sayalah yang sering mengangkat telepon tengah malamnya. Tidak lagi perduli bahwa dialah dulu yang selalu membela saya di depan laki-laki “aneh” lainnya. Memberi pandangan yang  berbeda, sehingga saya mengerti harus bersikap apa. Kami memutuskan tak lagi saling perduli.</p>
<p>Apalagi setelah Ang bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang marah-marah selalu. Perempuan yang selalu marah Ang pergi dengan saya. Saya yakin Ang akhirnya merasakan cinta. Sesuatu yang mahal buat seorang Ang. Bener, Ang memang tidak pernah serius dalam berhubungan. Seperti laki-laki berpikiran ringan lainnya. Tidak mau direpotkan dengan segala macam konsekuensi relationship. Itulah Ang. Tapi tidak demikian setelah bertemu dengan perempuan itu. Namun malang tak dapat ditolak, Ang patah hati. mungkin memang sudah begitu rumusannya. Setiap orang yang jatuh cinta akan merasakan sakit bukan kepalang. Ang pun meradang.</p>
<p>Di sela-sela cerita patah hati Ang, saya telah mendahului kisahnya. Jadilah kami dua orang yang memiliki hati yang patah pada saat itu. Saya memutuskan tidak ingin berbagi. Dan Ang memutuskan untuk fokus dengan usahanya menjadi manusia yang lebih berguna bagi dirinya. Saya tenggelam dalam pekerjaan. Dan Ang tenggelam dalam pencarian jati diri. Lebih banyak tidur dan merenung. Sampai suatu hari doanya terkabul. Ang akhirnya mendapatkan pekerjaan di daerah yang sama dengan perempuan yang telah mematahkan hatinya. Sayangnya doa itu dibuat pada saat mereka masih bersama. Dan jika sekarang doa itu terkabul, semuanya jadi terlambat. Bukan hanya terlambat tapi menjadi menyakitkan.</p>
<p>Mungkin memang benar kata-kata orang. Hati-hati dengan doamu sendiri. Saya pun jadi ikut-ikutan parno. Bagaimana rasanya tidak berharap dan berdoa. Atau bagaimana caranya menghadapi doa yang terkabul namun tidak tepat. Ntahlah. Yang Saya tahu Ang, sudah menjadi orang yang datar. Apatis. Apakah harapan dan doa justru akan melahirkan sikap apatis?</p>
<p>Karena Ang apatis, dan saya menutup diri, kami menjadi saling berasumsi. Komunikasi yang jelek, membuat semuanya menjadi lebih buruk. Saya sibuk, dia sibuk. Susah sekali untuk berjanji bertemu. Dan telepon pun tak membantu. Semuanya menjadi garing. Saya mendapati , kami kehilangan kemampuan untuk mengerti tanpa bicara. Saya mulai kesal dan berasumsi. Dia mulai lelah dan berasumsi. Ketika semua asumsi ini terbuka dalam satu percakapan, akhirnya ini menjadi satu fakta yang lucu. Paling tidak menurut kacamata saya.</p>
<p>Ang berpikir saya punya pacar. Saya pikir Ang sibuk dan seperti biasa lupa, alias tak perduli. Asumsi, Salah satu bentuk kegiatan yang berbahaya jika tidak dibarengi dengan bukti dan fakta. Apalagi isi kepala setiap manusia kan berbeda. Bicara sore ini dengan Ang membuka satu tabir yang selama ini sama-sama tidak ada yang ingin membukanya. Bicara sore ini adalah bicara dari hati dengan apa adanya. Kalau saya dan Ang kangen dengan “kami” , kangen dengan kegiatan ngobrol, ngopi-ngopi bareng, curhat tentang pacar masing-masing, dan  sharing tips. Kalau selama ini saya berasumsi dia pelit padahal sebenarnya Ang mulai menabung untuk kuliah, yang dulu tidak akan pernah dia lakukan untuk menjadi mandiri. Saya akui saya cukup salut. Kenyataannya berdoa dan berharap bukan kegiatan mitos belaka. Berdoa dan berharap mungkin bisa menjadi kerangka dari perencanaan bertahan hidup. Semoga kita semua diselamatkan agar tidak menjadi manusia-manusia apatis , yang tak percaya bahwa selalu ada harapan bagi orang-orang yang percaya untuk selalu berdoa. Dan yang penting sekali lagi semoga saya tidak selalu berasumsi. Saya sudah salah.</p>
<p><em>Pacar, husband, wife, kids, job.. should be doesn&#8217;t matter for &#8220;friendship&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=316</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Lingkungan :)</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=308</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=308#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 16:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Yuk cin link]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini hari lingkungan hidup sedunia loh. Sudahkah kita menanam pohon di Tahun ini? wah saya belum ada tuh. Dengan kondisi halaman yang kecil, tidak ada space untuk menanam pohon lagi. Eitts seharusnya itu bukan alasan.Ok ok.. saya belum tanam pohon. Tetapi menjaga lingkungan bukan masalah tanam pohon saja bukan? Isu global memang lagi mewabah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-312" title="http://visionsboard.com" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/06/water-drop1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></p>
<p>Hari ini hari lingkungan hidup sedunia loh. Sudahkah kita menanam pohon di Tahun ini? wah saya belum ada tuh. Dengan kondisi halaman yang kecil, tidak ada space untuk menanam pohon lagi. Eitts seharusnya itu bukan alasan.Ok ok.. saya belum tanam pohon. Tetapi menjaga lingkungan bukan masalah tanam pohon saja bukan?</p>
<p>Isu global memang lagi mewabah. Efek-efek  negatif dari global warmingpun sudah kita rasakan. Perubahan iklim yang drastis, dari hujan ke panas dan sebaliknya. Musim yang sudah tidak beraturan lagi waktunya. Cuaca yang cenderung gerah. Tiba-tiba hujan dan tidak berhenti-berhenti menyebabkan banjir dimana-mana.  Ini semua efek kecil dari perubahan iklim.<span id="more-308"></span> Namun  isu global warming ini akhirnya seperti satu spanduk besar bagi seluruh dunia agar perduli dengan lingkungannya. Bumi tempat kita tinggal bersama. Saya saja tidak mengerti sama sekali tentang lingkungan sampai saya “tercemplung” sedikit karena alasan pekerjaan. Kalau tidak, saya mungkin sama dengan orang-orang lain yang tidak khawatir dan perduli dengan keadaan lingkungan. Bahwasanya sebagai manusia kita juga harus ikut  menjaga dan memelihara. Terlebih lagi belajar berhemat terutama untuk energi.</p>
<p>Berhemat energi dalam kampanye penyelamatan lingkungan juga termasuk dalam kategori  yang diutamakan. Proses pengerukan energi sebenarnya menimbulkan kerusakan bagi bumi. Namun karena alasan kebutuhan hidup, pengerukan terus dilakukan.  Sebut saja gas, BBM, air, belum lagi pemanfaatan logam-logam alam , dan banyak lagiyang lainnya.<br />
Ikut memelihara lingkungan memang banyak caranya. Tapi kita sebagai manusia sering abai untuk mencari tahu. Karena sekarang lagi digalakkan tanam pohon, mungkin yang kita tahu ikut berpartisipasi dalam penyelamatan lingkungan adalah dengan tanam pohon saja. Tanam pohon jelas bagus, namun masih ada hal kecil lainnya yang bisa dilakukan. Misalnya berhemat dalam pemakaian air, mencari cara untuk merecycle sampah, mari bawa saputangan dibandingkan menggunakan tisue, mengurangi sampah plastik, membawa wadah sendiri ketika belanja. Contoh lain hemat energi  adalah matikan lampu saat tidur  atau pakai lampu yang lebih kecil daya nya, cabut semua kabel listrik dari steker ketika bepergian. Ternyata kabel yang tidak dicopot juga menyedot listrik loh. I just knew it.  Hurmm kira-kira apa lagi ya yang bisa dilakukan.</p>
<p>Ah ya .. World Water Day yang diperingati setiap tanggal 22 Maret  setiap tahunnya, di tahun ini  diadakan di Bali . Namun pada event  di tahun ini rasanya sepi peserta. Mungkin karena  orang-orang belum terlalu paham untuk apa memperingati hari air. Atau malah kurang promosi mengenai event tersebut , entahlah saya kurang tahu juga.  Padahal tema Word Water Day tahun ini  adalah “Clean Water for a healthy World” yang maksudnya Air bersih untuk kehidupan masyarakat.  Sayang kampanye ini rasanya belum memasyarakat.  Sebenarnya 2/3 dari bagian bumi adalah terdiri dari air. Namun kenapa kita diberi kampanye untuk menghemat air segala?  Ternyata, karena air bersih atau air tawar Cuma 3% jumlahnya di seluruh dunia. Kebayang kan kita harus bersaing mendapatkan air bersih yang jumlahnya tidak banyak tersebut. Bisa- bisa suatu hari nanti kita akan mengalami kesulitan akan air bersih. Air untuk minum, mandi, masak , mencuci,  dll.  Berapa banyak masyarakat yang menderita karena kesusahan mencari air bersih. Air menjadi barang mahal. Air yang tidak bersih juga  menjadi sumber penyakit. Hmmm&#8230; semoga suatu hari nanti kita tidak perlu membeli udara karena udara sudah ikut-ikutan kotor dan tidak ada udara bersih untuk survived.  Wah seram! So mari berhemat air mulai sekarang. Jangan mandi di Bath up keseringan, gunakan shower lebih hemat.</p>
<p>Bicara tentang lingkungan, Saya teringat dulu ketika kecil,  Saya pernah membaca komik yang lupa judulnya apa.  Dalam komik tersebut sebagian orang hidup dalam wadah perlindungan. Seperti sanctuary. Didalamnya semua serba instan dan buatan. Udara yang telah disaring. Air yang telah disanitasi, makanan hanya makan pil seperti diluar angkasa. Bahkan tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunganya, semua plastik. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kedalam wadah tersebut. Sementara yang tidak mampu dan golongan pemberontak , dibiarkan hidup diluar wadah. Menghirup udara dan hidup bertahan seadanya. Dengan udara, air dan energi sisa. Bahkan termasuk makanan-makanan sisa dari orang-orang yang memiliki persediaan makanan berlebih. Tidak terbayang rasanya harus hidup seperti itu. Namun entah kenapa, cerita itu terus Saya ingat sampai sekarang. Mungkin cerita tersebut membawa kekhawatiran tersendiri buat Saya.  Semoga kita yang masih diberikan hidup diatas bumi ini dapat memberikan kontribusi sekecil apapun untuk ikut menyelamatkan lingkungan yaa.</p>
<p>Belakangan ini saya juga tidak lagi ikut-ikutan angkot untuk kebut-kebutan dan salip-menyalip di jalanan hehehe. Hemat BBM. Ada lagi yang mau memberikan usulan? Kira-kira kegiatan kecil apa lagi ya yang bisa dilakukan untuk mengkontribusi penyelamatan lingkungan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=308</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tong Sampah tak berdasar</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=298</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=298#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 15:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFF story?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[“halllooo&#8230;” “allo” suara kecil diseberang menyahut. “ini siapa yaa?” lanjutnya. “ini Tante Widi, ini Arik yaa?” sahutku ga kalah semangat. “ohh tante Widi&#8230; aduh.. Arik kangen loh tante&#8230; udah lama” Langsung wajah saya sumringah. Hehehe&#8230; rasanya kok berbeda ya di kangenin sama anak-anak umur 6 tahun dibandingkan dikangenin sama om-om upss&#8230; abang-abang maksudnya. Hehehe. Sumringah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_299" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-299" title="&quot;Kita&quot;" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/05/26092008028-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">&quot;Kita&quot;</p></div>
<p>“halllooo&#8230;”<br />
“allo” suara kecil diseberang menyahut. “ini siapa yaa?” lanjutnya.<br />
“ini Tante Widi, ini Arik yaa?” sahutku ga kalah semangat.<br />
“ohh tante Widi&#8230; aduh.. Arik kangen loh tante&#8230; udah lama”</p>
<p>Langsung wajah saya sumringah. Hehehe&#8230; rasanya kok berbeda ya di kangenin sama anak-anak umur 6 tahun dibandingkan dikangenin sama om-om upss&#8230; abang-abang maksudnya. Hehehe. Sumringah yang beda, dan langsung pengen tanya-tanya banyak. Walaupun diseberang sana suara Ibunya, <a href="http://ica-ic4.blogspot.com/">Icha</a>, terus mengajarkannya harus berbicara apa. Harus menjawab apa. Dan cerita-cerita yang tak nyambung antara satu dengan yang lainnya terus mengalir selama kurang lebih sepuluh menit. Dari cerita Power Ranges, main game di komputer yang entah apa namanya, sampai cerita makan siang pakai apa hari ini. Ah senangnyaaa&#8230; hehehe. Saya memang kangen. Kangen dengan Ibunya, kangen dengan Arik juga yang selalu membanding-bandingkan saya dengan Aura Kasih ( maaf jangan protes yaa.. namanya juga anak-anak hahaha&#8230;). Hurmm apa khabar dirimu wahai sobat!</p>
<p><span id="more-298"></span></p>
<p>Dulu waktu saya bekerja, hampir setiap hari kami berbicara. Mengenai  kerjaan, pacar, non pacar, gosip, suami, keluarga  sampai ke khayalan-khayalan gila, yang kami namakan menghibur diri. Saat kaki dan tangan terikat keadaan, hal yang paling menyenangkan adalah menghayal. Saya lebih sering curhat, seolah dia adalah tong sampah besar tak berujung. Ketidakstabilan emosi sebagai residu dari kehidupan membuat rasa saling memiliki serasa besar sekali. Saking besarnya, percaya atau tidak, ketika saya teringat dengannya ,<a href="http://ica-ic4.blogspot.com/"> Icha</a> pasti telpon. Atau ketika dia sedang sedih, saya pasti telp. Tentu dorongan untuk menelpon itu tanpa disadari. Hanya spontanitas yang menyenangkan. Hanya keinginan yang tidak dapat dijelaskan kenapa. Benar-benar bukan matematika.</p>
<p>Sama seperti hari ini. Setelah beberapa hari berpikir harus telepon ke nomor yang mana karena nomor beliau selalu ganti-ganti, akhirnya saya bisa telepon ke no lama yang memang existing dan tidak diganti-ganti. Masalahnya terkadang nomor ini suka mati. <a href="http://ica-ic4.blogspot.com/">Icha</a> memang sibuk sekarang. Baru punya baby lucu yang  belum sempat saya saksikan secara live. Tadi sewaktu mandi saya sempat berhayal mengunjunginya suatu hari nanti. Jalan-jalan di Malang saja. Tidur-tiduran di hotel saja sambil bincang-bincang sampai capek. Tak perduli waktu. Tak perduli kisah apa yang tengah kami hadapi. Hanya bicara, nge-teh, bicara dengan Arik dengan pengalaman sekolah barunya, atau nonton Icha bersibuk ria sebagai Ibu. Ntahlah, kegiatan itu tidak pernah buat saya lelah. Tidak pernah saya merasa semua kisahnya adalah beban. Saya senang-senang saja.</p>
<p>Aneh rasanya, menemukan orang-orang yang bisa diajak bicara dan berbagi dimana mereka beribu-ribu km jauhnya dari tempat saya berada. Mungkin saya cukup beruntung, selalu punya “tong sampah” bolong yang tidak pernah merasa lelah dengan cerita remeh temeh saya. Mungkin di belahan bumi lain, ada orang yang tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak bercerita. Bahkan tidak sekedar memiliki pohon tempat berkeluh kesah.  Tempat  menuangkan beban hati, beban hidup dan mengosongkan hati agar menjadi bersih dan restart kembali. Menjadi seseorang yang baru pada keesokan hari. Saya salah satu dari orang yang cukup beruntung itu. Tidak sempurna memang, tapi saya tidak mampu membayangkan hari-hari saya tanpa mereka. Tanpa keluarga dan teman-teman. Bukan demi prestise, bukan demi hal-hal fisik lainnya. Tapi demi kesehatan jiwa saja.</p>
<p>Tidak perduli sejauh apa saya kelak. Tidak perduli sehebat dan sesibuk apa saya nantinya. Mudah-mudahan saya tetap menjadi perempuan yang sama , tempat berbagi cerita, tempat berbagi kasih buat mereka. Tetap menjadi <em>tong sampah tak berdasar</em> bagi mereka.  Justru jika suatu hari mungkin saya khilaf, mereka akan mengingatkan saya. This is what I call the power of circle.</p>
<p>*Miss u guys a lotttttt!!</p>
<div id="attachment_303" class="wp-caption alignleft" style="width: 414px"><img class="size-full wp-image-303 " title="kolase Arik" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/05/kolase-Arik1.jpg" alt="" width="404" height="404" /><p class="wp-caption-text">Us + Arik</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=298</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Terindah</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=294</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=294#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 04:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mikir-Mikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[“Kak &#8230; Coba pake kacamatanya&#8230;” Saya pun segera memakai kacamata hitam saya yang terletak di atas meja di tempat saya makan mie ayam sore itu. Seorang anak perempuan kecil, berumur mungkin 8 tahunan atau maksimal 10 tahun. Mengenakan pakaian lusuh dan membawa bekas tempat air minum mineral sebagai tempat mengumpulkan koin. Tanpa tedeng aling dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Kak &#8230; Coba pake kacamatanya&#8230;” </em></p>
<p>Saya pun segera memakai kacamata hitam saya yang terletak di atas meja di tempat saya makan mie ayam sore itu. Seorang anak perempuan kecil, berumur mungkin 8 tahunan atau maksimal 10 tahun. Mengenakan pakaian lusuh dan membawa bekas tempat air minum mineral sebagai tempat mengumpulkan koin. Tanpa tedeng aling dia langsung berbicara dengan saya. Mukanya yang kecil, putih dan imut, sejenak mengaburkan pandangan saya kalau dia sedang berusaha merayu saya untuk mengemis uang.</p>
<p><span id="more-294"></span></p>
<div id="attachment_295" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-295" title="IMG_08361" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_08361-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Me and her reading together </p></div>
<p>Ironis memang. Potensi sebanyak itu. Anak siapakah dia, saya pikir. Kenapa dibiarkan mengemis. Dan kelihatannya dia tidak putus sekolah juga. Karena dalam percakapan kami selanjutnya saya mendapati dia sedang membaca selebaran. Selebaran yang dia dapatkan di meja saya. Bahkan akhirnya kami membaca bersama.</p>
<p><em>“Kak Mie ayam satu mangkok berapa harganya?”,</em> Duh saya makin miris.</p>
<p>Saya segera ingin memanggil pelayan tempat jualan mie ayam. Tapi sebelum saya panggil,seorang laki-laki ntah siapa, menarik tangannya dan mengusirnya menjauh dari tempat saya. Anak perempuan itu diusir bersama dengan beberapa teman-teman senasibnya.</p>
<p>Siapa yang bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Saya jadi sedih. Saya ingin sekali memanggilnya lagi, sayang dia keburu menyeberang jalan. Dengan gayanya sambil berlari-lari kecil. Seolah-olah mengemis bukanlah beban baginya. Seolah-olah masa kecilnya yang seharusnya diisi hanya dengan bermain dan sekolah tidak menjadi masalah jika hanya menjadi urutan kesekian.</p>
<p>Memang serba salah. Setiap kali melihat anak-anak mengemis di perempatan jalan saya Cuma bengong. Dilema antara ingin memberi uang atau tidak. Kalau diberi nanti mereka akan semakin menjamur, dan orang tua yang kurang bertanggung jawab itu akan lebih enak-enakan lagi menganggap mencari nafkah juga kewajiban sang anak. Kalau tidak diberi uang, juga kasian. Mungkin kehidupan memang memaksa mereka harus menjalaninya. Mungkin mereka harus belajar berbohong, sekaligus belajar acting untuk menarik rasa iba dari orang-orang. Siapa yang harus disalahkan? Orang tua? Pemerintah? Manusia-manusia seperti saya yang kurang mau perduli? Atau siapa? Toh mereka kelihatan asyik-asyik saja menjalaninya. Di satu momen saya pernah melihat anak-anak kecil itu sudah mulai belajar “merampok”, yaitu Mengemis dengan setengah memaksa.</p>
<p>Apa ya yang harus dilakukan?  Saat ini saya belum tahu harus melakukan apa. Semoga suatu hari saya dapat membantu. Karena saya tidak mampu membayangkan anak-anak saya kelak, atau anak-anak teman-teman saya, anak saudara dan anak-anak di belahan dunia manapun,  harus kehilangan masa kecilnya. Kita Cuma akan mati sekali, dan masa yang indah adalah masa kanak-kanak. Tak tergantikan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=294</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berastagi .. dulu dan sekarang.</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=283</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=283#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 15:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku dan Passion]]></category>
		<category><![CDATA[Little Story of travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Ah yaa&#8230; seharusnya weekend ini saya berangkat ke Tangkahan. Melihat penangkaran gajah, jungle tracking dengan gajah, menyeberang sungai dan menginap di rumah kayu yang dingin. Mandi di air terjun yang super duper bikin bibir menggigil pun sudah terbayang di pelupuk mata saya. Tapi, tiba-tiba guide kami harus membatalkan perjalanan. Yaaah&#8230;. lengkaplah sudah, saya pikir. Kemarin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ah yaa&#8230; seharusnya weekend ini saya berangkat ke Tangkahan. Melihat penangkaran gajah, jungle tracking dengan gajah, menyeberang sungai dan menginap di rumah kayu yang dingin. Mandi di air terjun yang super duper bikin bibir menggigil pun sudah terbayang di pelupuk mata saya. Tapi, tiba-tiba guide kami harus membatalkan perjalanan. Yaaah&#8230;. lengkaplah sudah, saya pikir. Kemarin beberapa peserta yang akan ikut menuju Tangkahan mulai berkurang. Seharusnya kita pergi berdelapan malah menyusut menjadi berempat. Lain kali jangan ajak peserta dalam satu kantor yang sama ya Wid, hihihi. Karena kalau sedang ada event , semuanya jadi tak bisa skip untuk holiday.</p>
<p>So.. apa jadinya? Jadilah saya dan kedua sohib saya memutuskan untuk menginap di Berastagi saja. Sudah lama memang tidak kesana. Apalagi menginap. Terakhir saya kesana hampir setahun yang lalu. itu juga Cuma sekedar main di Hillpark Berastagi. Dulu sih tempat itu cukup menghibur. Tapi wahana game yang itu-itu saja, cukup membuat bosan.</p>
<p>Pukul 6 sore kami mulai bergerak untuk berangkat dari Medan . Memang sengaja berangkat sore. Tujuan kami kali ini adalah mandi air panas di pemandian air panas Debuk-Debuk. <span id="more-283"></span>Saya tak biasa sebenarnya mandi di pemandian air panas ini. Apalagi malam. Duuhh.. saya kan tidak tahan dingin. Tapi tak urung ide tersebut membuat saya tertantang untuk mencoba. Apalagi sekarang area Berastagi tidaklah sedingin dulu dan sekarang sedang musim panas.</p>
<p>Setiap kali saya berangkat ke Berastagi, kegiatan yang jarang sekali saya lewatkan adalah singgah di tempat makan jagung di Panatapan dan makan mie rebus instan disana. Hahaha.. norak yah. But menu wajib ini membuat saya selalu kangen Berastagi. Mungkin orang lain akan berpikir apa asyiknya makan mie rebus. Tapi buat saya makan mie rebus, sambil melihat pemandangan ke Desa Bandar Baru yang penuh lampu dan dihembus angin yang dingin membuat kepala ringan.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-291" title="Mie rebus" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_07191-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p>Kita dapat menjumpai Panatapan hanya sekitar 15 menit sebelum kota Berastagi. Panatapan adalah salah satu spot populer di jaman saya. Tak tahu ya kalau sekarang. Kalau dulu sih banyak yang pacaran suka datang ke sini  hanya untuk makan jagung bakar, sama sekali ga hemat ongkos. Hehehe..</p>
<p>Setelah makan, saya dan kedua teman saya melanjutkan ke Berastagi kota. Kami memutuskan untuk menginap di area Gundaling saja. Area Gundaling adalah area puncak. Sehingga pemandangan kota Berastagi dengan lampu kelap-kelipnya yang ditutup kabut, akan menjadi daya tarik tersendiri pada malam itu. Saya memang suka lampu. Terlalu suka malah. Sehingga ketika mendapat penginapan di Mess Pemprovsu yang memang berada di puncak Gundaling, membuat saya sumringah. Hehehe. Kebayang besok pagi bisa bengong lihat kabut.</p>
<p>Jam 10.00 malam kami akhirnya sampai juga di tempat pemandian air panas Debuk<br />
Debuk. Yaa.. setelah berberes barang dan cek in ke Mess, kami langsung berangkat ke tempat pemandian air panas. Untuk menuju pemandian air panas ini kami harus berjalan turun kembali dari kota Berastagi. Ya sebenarnya memang terlebih dahulu mendapatkan spot pemandian ini daripada kota Berastagi, namun karena berniat untuk menginap di Berastagi makanya kami harus mendapatkan tempat menginap terlebih dahulu. Memang di area pemandian ini terdapat tempat penginapan, namun karena saya tidak pernah menginap disana, saya cenderung ragu.</p>
<p>Beberapa spot pemandian terlihat masih buka di jam malam-malam begini. Malah menurut teman saya, semakin malam semakin rame loh. Benar saja, kami masuk ke area pemandian air panas yang menyediakan air panas tawar dan mendapati tempat tersebut sudah dipenuhi oleh orang-orang. Maksudnya air panas tawar adalah air panas yang tidak bercampur dengan belerang. Saya sih agak sedikit kurang bersahabat dengan belerang-belerang itu. Aromanya suka ga nahan. Buat sesak nafas.</p>
<p>Karena rame sekali, saya dan teman saya memutuskan untuk pindah ke area pemandian air panas yang lain. Kali ini tempatnya tidak memiliki tempat pemandian air tawar. Yaah.. terpaksalah saya harus rela menghirup asap belerang. Namun tempat yang satu ini menyediakan tempat pemandian VIP. Ketika kami masuk dan memilih tempat, yang dimaksud VIP adalah ada satu ruang tertutup, pakai pintu dengan mini kolam berisi air panas dengan atap terbuka. Hahaha.. serasa masuk kedalam bak mandi saja. Tapi sudahlah, sudah terlanjur milih untuk ambil VIP. Walaupun  harus bayar lebih mahal lima puluh ribu per ruangan.</p>
<div id="attachment_292" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-292" title="IMG_0736" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_0736-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Serasa mandi di Bak deh.. apalagi dengan keramik yang &quot;old fashioned&quot; hihihi</p></div>
<p>2 jam dan mateng. Ngobrol ngalur ngidul. Curhat-curhatan. Foto-foto *teutep*, makan, sampai akhirnya kantuk menyerang dan kami akhirnya menyerah. Sudahlah mau balik ke mess dan tidur dengan nyenyak saja. Badan sudah terasa rileks sekali. Namun kalau lain kali mau mandi air panas, mending pilih diluar saja deh. Lebih seru rasanya. Cuma kalau mau sesi private dan curhat-curhatan seperti saya dan teman-teman bolehlah ambil VIP. Malah saking private nya seperti ada yang sedang melakukan ‘adegan hot’ dalam ruangan lain di pemandian yang sudah hot itu. Hihihi..</p>
<p>Pagi di Gundaling sekarang sudah tidak sedingin dulu lagi. Dulu saya ingat, saya tidak akan mampu bangun tanpa merasa sakit-sakit di sekujur badan menahan dingin. Tetapi sekarang tidak. Saya biasa-biasa saja tuh tidur disana. Walaupun tetap dingin-dingin sedikit, paginya saya mampu keluar jam 6 pagi untuk jalan pagi mengelilingi Gundaling. Tentunya disambi sarapan Mie rebus dan teh manis lagi. Haiyaaa&#8230;</p>
<p>Gundaling masih tetap seperti dulu. Seperti saya berumur 10 tahunan dan selalu rekreasi kesana. Kios-kios jualan souvenir  masih tetap di tempat yang dulu. Masih berjualan dengan jenis souvenir yang sama ; asesoris, syal, topi-topi, kain-kain khas berastagi, baju batik  dan sweater rajut. Masih ada kuda-kuda dan Bendi. Namun, saya kecewa dengan jalanan yang penuh dengan kotoran kuda. Di Bukit Tinggi, Pemerintah Daerahnya melarang keras hal seperti ini terjadi. Karena mereka sadar Bukit Tinggi adalah kota wisata, dan tempat wisata harus dijaga keasriannya. Kapan ya Berastagi seperti itu. Kok bertahun-tahun kesana, tempatnya masih sama. Mess dan hotel masih dengan cat yang sama. Atau malah mungkin sudah lama sekali tidak di cat ulang. Cat luntur dan kusam lebih mirip penginapan makhluk halus dibandingkan untuk manusia, hiiii&#8230;</p>
<p>Di pinggiran Gundaling ini banyak sekali warung-warung jualan minuman. Maksudnya minum teh, kopi dsb. Mungkin bandrek juga ada. Tapi selain jualan mereka menyediakan tempat untuk menginap terbuka. Wah.. saya baru tahu loh ada tempat seperti itu disini. Jadi mereka tidur di tempat-tempat lesehan yang sudah disediakan dengan kasur-kasur tipis. Yah areanya terbuka hanya beratapkan rubia saja. Hebat yang tidur disitu. Apa ga kedinginan yah? mungkin tidak, karena saya lihat banyak yang menginap disitu bersama pasangan-pasangan mereka. Hahaha..murah meriah lah mungkin. Yang penting peluk-peluk hangat.</p>
<p>Dan saatnya pulang tiba, tak lupa kami singgah di pasar buah Berastagi. Walaupun di Medan bisa membeli buah-buahan seperti di pasar ini, entah mengapa kalau ke Berastagi pasti pengennya singgah disini. Saya suka deh lihat pemandangan buah bewarna-warni. Walau kadang ga beli juga. Cuma lihat-lihat teman membeli. Namun kali ini saya harus beli karena ada titipan orang rumah untuk beli. Sebelumnya tanya-tanya harga dulu di Medan berapa jualnya. Karena kalau tidak , bisa jadi harganya lebih mahal disini. Maklum kota wisata, semua orang aji mumpung. Dan setelah sibuk tawar sana-tawar sini, perutpu keroncongan.  Kami memutuskan makan siang dulu sebelum turun ke Medan. Di dekat Bukit Kubu ada warung jualan pecel  dan wajik yang enak. Aneh ga sih di daerah Gunung dan Tanah Karo begini makan pecel? Ahh.. biarlah, yang penting minumnya bandrek susu di daerah sejuk begini, hehehe. So lengkaplah icip-icip kuliner di Berastagi kota ini.  So long Tanah Karo &#8230;. till we meet again. Mudahan menjadi Kota yang lebih baik yaah..</p>
<div id="attachment_285" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-285" title="Berastagi from the Top  and PAsar Buah" src="http://dilangitadabintang.com/wp-content/uploads/2010/05/kompilasi-2-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">fr Ki-Ka :View Berastagi dari Gundaling, View dari Panatapan, Pasar Buah Berastagi</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=283</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;sebuah cerita&#8221;</title>
		<link>http://dilangitadabintang.com/?p=274</link>
		<comments>http://dilangitadabintang.com/?p=274#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 04:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Widi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry Lover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dilangitadabintang.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Dan kuceritakan cerita cinta, tentang bidadari yang turun dari surga Tiba tiba &#8230;. langit pun tak bersahabat, menghitam kelam, menghujan badai Dan aku pun menggulung cepat, karpet hijau, potongan roti, cangkir-cangkir jus kita Segera berangkat&#8230; berlari&#8230; berteduh.. Sayang &#8230; ternyata aku tak bisa berteduh disana,, dihatimu yang mengering&#8230;.dihatimu yang mengendus  aroma kecewa&#8230; Sayang kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan kuceritakan cerita cinta, tentang bidadari yang turun dari surga</p>
<p>Tiba tiba &#8230;.</p>
<p>langit pun tak bersahabat, menghitam kelam, menghujan badai</p>
<p>Dan aku pun menggulung cepat, karpet hijau, potongan roti, cangkir-cangkir jus kita</p>
<p>Segera berangkat&#8230; berlari&#8230; berteduh..</p>
<p>Sayang &#8230; ternyata aku tak bisa berteduh disana,,</p>
<p>dihatimu yang mengering&#8230;.dihatimu yang mengendus  aroma kecewa&#8230;</p>
<p>Sayang kali ini aku terpaksa diam,denting kecil pasrah&#8230;.ah mengalun</p>
<p>merdunya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dilangitadabintang.com/?feed=rss2&amp;p=274</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
