RSS
 

Archive for the ‘Poetry Lover’ Category

“sebuah cerita”

07 May

Dan kuceritakan cerita cinta, tentang bidadari yang turun dari surga

Tiba tiba ….

langit pun tak bersahabat, menghitam kelam, menghujan badai

Dan aku pun menggulung cepat, karpet hijau, potongan roti, cangkir-cangkir jus kita

Segera berangkat… berlari… berteduh..

Sayang … ternyata aku tak bisa berteduh disana,,

dihatimu yang mengering….dihatimu yang mengendus  aroma kecewa…

Sayang kali ini aku terpaksa diam,denting kecil pasrah….ah mengalun

merdunya

 
 

Kata Pelangi ..

06 May

Kata Pelangi …

Mari berjalanlah diatas warna warniku,

tidakkan ‘kalian’ merindukannya?

Tapi… langit yang gerimis,

jalan setapak yang licin,

selalu menerbitkan secuil ketakutan bukan?…

Kata pelangi … “ah semoga esok aku masih ada”

 
 

Haiii.. apa khabarmu?

02 May

Haii.. Apa khabarmu… ah berhari-hari kau menghilang, di titik aku merinduimu, kau justru tak pernah datang.

Haii apa khabarmu… kau lagi-lagi tak memberi khabar, kutanya kepada awan, kutanya kepada bintang. Kau masih saja menghilang. Adakah kau Cuma khayalan?

haii.. apa khabarmu… ingin kukirim pesan, ingin kukirim bunga, tapi kok jadi seperti lagu Slank saja, aku tahu kita tak lagi muda, gimana kalau aku titip rinduku saja?

haii apa khabarmu, tidakkah kau rindu padaku?  Gelak tawaku, celoteh bawelku, harum tubuhku? Kok justru aku yang rindu statement statementmu.

Mungkin aku tlah terbiasa, kepada sebentuk kecil isi kepalamu, dan segaris senyum tipismu, hrmm..mungkin saja suatu hari kau tak akan pernah menduga.

Ah.. biarlah, aku lelah bertanya, kepada awan dan kepada bintang. Mudah-mudahan kau baik-baik saja…

PS : tolong angkat telpon hatimu berdering, mungkin aku yang telephon

 
 

Sudah lama

21 Feb

Sudah lama sekali… semenjak senja itu

Tertidur dibuai angin.

Terbangun… dengan secangkir kopi

Dan semangkuk penuh impianku tentangmu

Dan serentetan senyum membingkainya

Sudah lama sekali … dan gambarnya mulai mengabu biru

Menguning usang..

Mungkinkah benar?

Abrasi yang kau ceritakan?

Menyapu habis mimpiku tentang bintang?

 
 

Kanvas jiwa (kering)

06 Jan

Jangan berdiri selayaknya tugu

Kau bukan sesuatu utk diingat

Bolehlah kau beranjak bersama senjamu yang berlari kencang mengejar mentari

Bolehlah kau menghilang bersama embunmu yang menguap seiring garangnya matahari

Kau adalah hari senin yang akan berlalu setelah selasa menjelang

Sayang sekali kasihmu hanya sampai jam 24 malam

Aku berada disini 7 hari seminggu dan seterusnya

Kau disana dengan piyama barumu dan mimpi bersamaku

Bukankah itu kejam? Bermimpi dan terbangun tanpa namaku tersebut?

Bukankah itu kejam, ku bermimpi dan terbangun dan hanya namamu yang tersebut?

Ku rasa … Bolehlah kau sekarang beranjak dari beranda hatiku…

Dan nikmati senjamu menghirup angin ,,,,

Dan biarkan kanvas jiwaku mengering di balik punggungmu

Jangan perduli.

 
 

Kangen(mu)

03 Jan

Jika angin saja yang menyampaikannya kepadaku di malam ini

Aku akan menamparnya

Dan menyuruhnya kembali membawa pesanku utkmu

Jangan berani-berani merinduiku hanya dari balik teropong hidupmu

Hadapi aku.

 
 

Ada Apa dengan Gravitasi

03 Jan

Ada apa dengan gravitasi

Aku berjalan terbalik

Kepala dibawah kaki di atas

Apa yang dibawah keatas, yang diatas kebawah


Ada apa dengan gravitasi

Aku tak bergerak melepas

Aku bergerak maju mundur

Aku berputar dalam poros


Ada apa dengan gravitasi dan hatimu yang berat

Ada apa dengan cinta dan kebencianmu yang membungkam

Ada apa dengan gravitasi sehingga kau bergerak

Maju dan mundur

Maju dan mundur


Ada apa dengan gravitasi

Yang melahirkan begitu banyak simpang di hatiku, di hatimu

Dan berlaripun tak ada gunanya.

 
 

Seperti mereka yang mencintaiku

19 Oct

Jangan… jangan mencintaiku seperti mereka yang mencintaiku

Jangan berlutut, di depanku. Jangan pula angkatkan tas bututku.

Tak usah kirimkan aku bunga, bunga mawar ataupun bunga bank juga.

Bunga membuatku bersin, dan alergi saja.


Jangan…. Jangan mencintaiku seperti mereka yang mencintaiku

Kirimkan lagu cinta, dalam cd bersampul lelehan gula-gula mesra

Kirimkan puisi , bergelimang kata-kata setia

Kata-kata hanya membuat hatiku basah sehari saja


Jangan… tolong jangan mencintaiku seperti mereka yang mencintaiku

Mencatat langkah-langkahku

Merekam setiap senandungku

Tolong jangan…


Tapi…

Cintaiku dengan hal yang termahal yang bisa kau berikan

Gantungkan keyakinanmu atas sebentuk kasihku

Korbankan duniamu atas secuil kisah yang kubeberkan dihari-harimu

Cintaiku dengan hatimu yg Cuma satu itu.


Jangan mencintaiku seperti mereka mencintaiku…

Tolong Jangan ….

 
 

“Tadi malam (ketika kau ingin pulang)”

10 Aug

Tadi malam… katamu kau lelah

Kau ingin duduk di taman tempat jalan setapak yang kita jalani

Kau ingin melihat bintang dari balik rimbunan beringin

Katamu… mungkin ini pertama dan terakhir

Kau tak melihatku malam itu, terpesona akan kerlipnya.


Tadi malam… katamu sudah cukup

Secangkir kopi yang kau sedu, lantak tak bersisa

Katamu… waktuku telah habis

Katamu…. kau ingin pulang


Tadi malam….. katamu kau tak berarah

Rindu yang tergenggam dalam perjalanan setapak kita

Kau telah titipkan di lengan sang pemilik waktu

Kau bisikkan pelan, bersamaan dengan gesekan beringin, terurai bersama angin.

Kau menyerah….


Tadi malam….

Jejak kakimu yang menjejak, mendingin dan mengabur bersama malam,

Mengabut menyaput angan, aku berpegangan di temali beringin

Dan lagi….seperti video Dora diulang lagi

Malam seperti pagi dan pagi tak lagi bermatahari.


-wd-


 
 

Mungkin suatu Hari

08 Jun

Mungkin suatu hari..

Aku akan mengetuk pintu di hatiku

Seraya bergegas membawakanmu sepasang sepatu

Mengingatkanmu, waktunya telah tiba

Mari segera pergi ke ujung taburan pasir itu

Mereka telah menunggu..

Read the rest of this entry »