Bangkok atau Thailand mungkin memang terkenal dengan Temple-temple nya. Hal pertama yang kami lakukan ketika sampai di Bangkok adalah membaca petunjuk bagaimana mengikuti tur lokal untuk menyaksikan temple dengan mata kepala sendiri. Kami sampai di Bangkok masih pagi. Flight dari Phuket ke Bangkok tepat jam 7 pagi. Sementara dari daerah penginapan di daerah Patong ke Airport di Pusat Kota Phuket memakan waktu kurang lebih 45 menit ditempuh dengan kecepatan 100 – 120 km / jam. Jauh? Yap bener jauh. Saya dan teman-teman yang lain sampai deg-deg an. Namun tepat Jam 5 Pagi, taksi sudah menunggu di depan lobby. Di Phuket, taksi tak berlisensi banyak banget. Namun benar-benar dapat dipercaya. Saya memesan taksi di kios tur and travel yang banyak terdapat di pinggiran jalanan Patong satu malam sebelumnya. Taksi kami booking untuk menjemput kami dan mengantarkan ke Airport. Dengan kondisi beberapa tas yang besar dan penumpang 4 orang, kami dijemput dengan taksi Avanza dengan supir cewek! Bravo. Dan doi enggak banyak bicara langsung bantu-bantu angkat barang dan ngebut ke airport. Keren…
Archive for the ‘Little Story of travel’ Category
Berastagi .. dulu dan sekarang.
Ah yaa… seharusnya weekend ini saya berangkat ke Tangkahan. Melihat penangkaran gajah, jungle tracking dengan gajah, menyeberang sungai dan menginap di rumah kayu yang dingin. Mandi di air terjun yang super duper bikin bibir menggigil pun sudah terbayang di pelupuk mata saya. Tapi, tiba-tiba guide kami harus membatalkan perjalanan. Yaaah…. lengkaplah sudah, saya pikir. Kemarin beberapa peserta yang akan ikut menuju Tangkahan mulai berkurang. Seharusnya kita pergi berdelapan malah menyusut menjadi berempat. Lain kali jangan ajak peserta dalam satu kantor yang sama ya Wid, hihihi. Karena kalau sedang ada event , semuanya jadi tak bisa skip untuk holiday.
So.. apa jadinya? Jadilah saya dan kedua sohib saya memutuskan untuk menginap di Berastagi saja. Sudah lama memang tidak kesana. Apalagi menginap. Terakhir saya kesana hampir setahun yang lalu. itu juga Cuma sekedar main di Hillpark Berastagi. Dulu sih tempat itu cukup menghibur. Tapi wahana game yang itu-itu saja, cukup membuat bosan.
Pukul 6 sore kami mulai bergerak untuk berangkat dari Medan . Memang sengaja berangkat sore. Tujuan kami kali ini adalah mandi air panas di pemandian air panas Debuk-Debuk. Read the rest of this entry »
Semalam Di Inacraft
Akhirnya Jum’at kemarin saya sampai juga di Jakarta untuk menyaksikan Inacraft, komersial handicraft trade fair yang diadakan di JCC Senayan. Saya sedikit terhuyung-huyung setelah turun dari pesawat. Dengan menumpang pesawat Batavia Air, perjalanan kok terasa sedikit lebih lama. Mungkin cuaca sedikit buruk diatas sana. Namun ketika landing dan melihat ke langit – seperti yang selalu saya lakukan dalam setiap kali perjalanan – saya melihat langit Jakarta cukup manis tampilannya. Walaupun tidak sebiru langit di daerah pantai, namun tidak Cuma sekedar putih. Ah.. senangnya melihat langit bersih seperti ini. Apalagi ini Jakarta. Saya membatin pelan mudah-mudahan hari ini berjalan lancar. Dan kendaraan penjemput pun melaju dengan kencang di jalan tol meninggalkan Bandar Udara Soekarno-Hatta segera menuju Inacraft.
Kali ini saya tidak sendirian, ataupun bergaya backpaker seperti biasanya. Tidak ada ransel dan flat shoe, tidak ada ipod di telinga, tidak casual dan cuek. Kali ini saya bepergian dengan agak rapi, walaupun tetap nge-jeans tapi in style look*halah*, malah saya menitipkan koper saya di bagasi loh, padahal selama ini tidak pernah karena bawaan tidak pernah banyak dan sekaligus memang tidak percaya dengan Airlines di Indonesia kecuali Garuda . Saya tidak pergi sendirian seperti biasa. Saya pergi bersama salah seorang sosialita Medan, seorang ”kakak-kakak” hehehe. Read the rest of this entry »
Marathon !! ( Banda Aceh )
Hari pertama di Banda setelah terbang 45 menit dari Medan, saya dihibur dengan mengunjungi pantai. Lampu’uk Beach. Halah, kenapa juga jadi Bahasa Inggris. Saya akhirnya menjejakkan kaki di pantai ini. Dengan ditemani oleh seorang teman yang melarikan diri dari kantornya. Sudah lama dengar nama pantai ini. Tapi setelah berulang-ulang kali ke kota ini saya selalu tidak sempat singgah. Dan kali ini terbayar sudah. Lampu’uk di depan mata. Jangan membayangkan pantai ini memiliki resort ya. Bayangkanlah pantai pribadi yang kita miliki di dekat lingkungan rumah kita. Hanya saja yang merusak pemandangan adalah, pondok-pondok tempat minum air kelapa muda yang sangat mengganggu. Kesannya rame dan tak beraturan.
Preparation
Sambil mempacking semua kebutuhan saya untuk perjalanan 9 hari saya ini, saya banyak berpikir. Bagaimana jika akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukannya saja. Dalam konteks, keluar dari kotak yang sudah membuat saya kehilangan siapa diri saya sedikit demi sedikit namun pasti. Sejujurnya, saya lelah. Itu saja simple dan pasti. Hal yang selalu berseliweran selama 6 bulan ini adalah istirahat. Istirahat dari semua kerumitan, kantor dan pribadi.
Taman Resort Simalem (Merek Hills, Danau Toba)
Misteriously Danau Toba. Kali ini saya berkesempatan melihatnya dari suatu tempat di pinggiran Danau Toba yang sebentar lagi akan benar-benar menjadi suatu resort yang cukup mewah. Resort yang dapat dijadikan salah satu tempat rekomendasi untuk melepaskan ketegangan atas hiruk pikuk kehidupan. Tempat ini dinamakan Taman Simalem Resort. Hanya 2,5 jam dari Medan, itu menurut brosur yang saya baca, namun perjalanannya sendiri cukup butuh perjuangan. Merek, Tanah Karo, begitu kita menemukan tempat itu, Taman Resort Simalem hanya berkisar 15 menit dari sana. Namun, kondisi jalan yang cukup rusak ditambah lagi ada perbaikan jembatan membuat perjalanan tidak semanis 2,5 jam saja. Tepat 3,5 jam saya menghitung perjalanan dari Medan, maka sampailah di suatu tempat yang saya hampir tidak percaya ada tempat seperti ini hanya 3,5 Jam dari Medan.
Menemukan tempat yang cukup membuat suara-suara dalam kepala untuk seharian ini berhenti, dan jaraknya hanya 3,5 jam tak disangka membuat hati saya meloncat-loncat dalam kekaguman. Walau saya sudah untuk kesekian kali nyamelihat hamparan Danau seluas dan semisterius ini. Read the rest of this entry »
Hanya sedikit dari Meulaboh
Kita tidak akan pernah siap menemukan pembicaraan kita sehari-hari menjadi doa yang berwujud kenyataan ketika Tuhan mendengarkannya. Hal ini yang saya coba pahami, ketika akhirnya saya dapati schedule saya selama hampir 2 bulan belakangan ini penuh dengan perjalanan dinas ke tempat yang jarang saya datangi, ketempat yang saya hindari untuk datang dan bahkan ketempat yang belum pernah saya datangi. Padahal di posisi kerja saya, potensi saya untuk melakukan perjalanan dinas ke luar kota secara marathon seperti sekarang ini sangatlah minim.
Tanpa saya sadar keadaan ini adalah keadaan doa terkabul diantara bicara meracau saya. Pertanyaannya, senangkah saya setelah ini terjadi? . klise, manusia memang selalu ingin lebih. Selalu lupa bersyukur bahwa kesempatan telah terjadi di depan mata.