RSS
 

Archive for the ‘Mikir-Mikir’ Category

Memang Lebih enak men – judgment

04 Aug

Barusan saya membaca kembali blog dee mengenai warna-warni kaca hati. sambil mengingat-ingat potongan demi potongan kejadian yang terjadi belakangan ini. Sebagai seorang manusia , tentu saja saya membutuhkan orang lain untuk berbagi. Baik itu keluarga  atau teman-teman. Rasanya sulit membayangkan hidup tanpa siapa-siapa. Dalam Blog Dee saya mengerti yang dia maksud mengenai kaca hati. sebagai manusia, kita tidak dapat menghindari masalah. Kemalangan yang terjadi. Atau bahkan keberuntungan dalam hidup. Setiap manusia memiliki argumentasi tersendiri mengenai pilihan dalam menjalani kehidupan.  Baik itu dinilai salah, benar, wajar ataupun tidak wajar. Kehidupan tidak pernah berhenti di satu titik sampai seseorang mati. Rasanya ideal sekali jika kita dapat menemukan komunitas, baik itu keluarga ataupun teman-teman , yang mengerti apa saja yang kita rasakan, mendukung apa yang kita lakukan, dan menerima kita seperti apa adanya kita. Tapi memang benar adanya, kondisi ideal itu tidak akan pernah ada. Dan kita menilai melalui kaca hati kita.

Memang lebih enak melakukan judgement.  Read the rest of this entry »

 
 

Terkunci Asumsi

07 Jun


Rasanya sulit dipercaya. Waktu akan menyembuhkan luka. Namun, jika waktu akan membuat ingatan menjadi kabur mengenai suatu peristiwa , ya saya percaya.

Kemarin saya bicara dengan Ang. Saya lupa kapan kami bicara-bicara tentang hati. saya suka berteman dengannya karena terkadang saya tidak perlu mengeluarkan banyak kata-kata. Kita bisa tertawa atau nangis bersama. Orang-orang selalu mengatakan saya dan Ang adalah pasangan. Ang sayang dengan saya, Cuma memang saya terlalu keras kepala. Dan saya perduli dengan hidup Ang, hanya kadang benci dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Namun kami adalah keluarga. Dan waktu membuat ingatan saya tentang kemarahan menjadi kabur. Dan itu benar adanya.
Ang sudah seperti adik saja. Ang sering minta uang, sering minta dibeliin rokok, bahkan nangis bareng waktu dia putus sama pacarnya yang kejam itu. Hehehe…. pacar-pacar saya suka cemburu melihat kedekatan saya dengan Ang. Sulit dijelaskan kenapa saya selalu membela Ang. Seperti yang saya katakan, Ang seperti adik saja. Keluarga pasti akan saling membela bukan?

Beberapa waktu yang lalu saya kecewa berat dengan Ang. Layaknya seorang kakak yang terluka egonya. Saya melihat Ang selalu take it for granted dengan saya. Sebagai kakak yang gila memberi pengaruh yang baik, saya yakin Ang boring berat. Akhirnya kami menjadi dua orang asing yang saling malas memberi kabar. Apalagi ketika Ang sudah tidak lagi berada di kota yang sama. Saya memutuskan untuk tidak memperdulikan Ang lagi. Saya merasa Ang sudah dapat mandiri. Sudah bekerja dan tidak lagi memerlukan saya. Tidak lagi perduli kalau sayalah yang sering mengangkat telepon tengah malamnya. Tidak lagi perduli bahwa dialah dulu yang selalu membela saya di depan laki-laki “aneh” lainnya. Memberi pandangan yang  berbeda, sehingga saya mengerti harus bersikap apa. Kami memutuskan tak lagi saling perduli.

Apalagi setelah Ang bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang marah-marah selalu. Perempuan yang selalu marah Ang pergi dengan saya. Saya yakin Ang akhirnya merasakan cinta. Sesuatu yang mahal buat seorang Ang. Bener, Ang memang tidak pernah serius dalam berhubungan. Seperti laki-laki berpikiran ringan lainnya. Tidak mau direpotkan dengan segala macam konsekuensi relationship. Itulah Ang. Tapi tidak demikian setelah bertemu dengan perempuan itu. Namun malang tak dapat ditolak, Ang patah hati. mungkin memang sudah begitu rumusannya. Setiap orang yang jatuh cinta akan merasakan sakit bukan kepalang. Ang pun meradang.

Di sela-sela cerita patah hati Ang, saya telah mendahului kisahnya. Jadilah kami dua orang yang memiliki hati yang patah pada saat itu. Saya memutuskan tidak ingin berbagi. Dan Ang memutuskan untuk fokus dengan usahanya menjadi manusia yang lebih berguna bagi dirinya. Saya tenggelam dalam pekerjaan. Dan Ang tenggelam dalam pencarian jati diri. Lebih banyak tidur dan merenung. Sampai suatu hari doanya terkabul. Ang akhirnya mendapatkan pekerjaan di daerah yang sama dengan perempuan yang telah mematahkan hatinya. Sayangnya doa itu dibuat pada saat mereka masih bersama. Dan jika sekarang doa itu terkabul, semuanya jadi terlambat. Bukan hanya terlambat tapi menjadi menyakitkan.

Mungkin memang benar kata-kata orang. Hati-hati dengan doamu sendiri. Saya pun jadi ikut-ikutan parno. Bagaimana rasanya tidak berharap dan berdoa. Atau bagaimana caranya menghadapi doa yang terkabul namun tidak tepat. Ntahlah. Yang Saya tahu Ang, sudah menjadi orang yang datar. Apatis. Apakah harapan dan doa justru akan melahirkan sikap apatis?

Karena Ang apatis, dan saya menutup diri, kami menjadi saling berasumsi. Komunikasi yang jelek, membuat semuanya menjadi lebih buruk. Saya sibuk, dia sibuk. Susah sekali untuk berjanji bertemu. Dan telepon pun tak membantu. Semuanya menjadi garing. Saya mendapati , kami kehilangan kemampuan untuk mengerti tanpa bicara. Saya mulai kesal dan berasumsi. Dia mulai lelah dan berasumsi. Ketika semua asumsi ini terbuka dalam satu percakapan, akhirnya ini menjadi satu fakta yang lucu. Paling tidak menurut kacamata saya.

Ang berpikir saya punya pacar. Saya pikir Ang sibuk dan seperti biasa lupa, alias tak perduli. Asumsi, Salah satu bentuk kegiatan yang berbahaya jika tidak dibarengi dengan bukti dan fakta. Apalagi isi kepala setiap manusia kan berbeda. Bicara sore ini dengan Ang membuka satu tabir yang selama ini sama-sama tidak ada yang ingin membukanya. Bicara sore ini adalah bicara dari hati dengan apa adanya. Kalau saya dan Ang kangen dengan “kami” , kangen dengan kegiatan ngobrol, ngopi-ngopi bareng, curhat tentang pacar masing-masing, dan  sharing tips. Kalau selama ini saya berasumsi dia pelit padahal sebenarnya Ang mulai menabung untuk kuliah, yang dulu tidak akan pernah dia lakukan untuk menjadi mandiri. Saya akui saya cukup salut. Kenyataannya berdoa dan berharap bukan kegiatan mitos belaka. Berdoa dan berharap mungkin bisa menjadi kerangka dari perencanaan bertahan hidup. Semoga kita semua diselamatkan agar tidak menjadi manusia-manusia apatis , yang tak percaya bahwa selalu ada harapan bagi orang-orang yang percaya untuk selalu berdoa. Dan yang penting sekali lagi semoga saya tidak selalu berasumsi. Saya sudah salah.

Pacar, husband, wife, kids, job.. should be doesn’t matter for “friendship”

 
 

Masa Terindah

17 May

“Kak … Coba pake kacamatanya…”

Saya pun segera memakai kacamata hitam saya yang terletak di atas meja di tempat saya makan mie ayam sore itu. Seorang anak perempuan kecil, berumur mungkin 8 tahunan atau maksimal 10 tahun. Mengenakan pakaian lusuh dan membawa bekas tempat air minum mineral sebagai tempat mengumpulkan koin. Tanpa tedeng aling dia langsung berbicara dengan saya. Mukanya yang kecil, putih dan imut, sejenak mengaburkan pandangan saya kalau dia sedang berusaha merayu saya untuk mengemis uang.

Read the rest of this entry »

 
 

Setengah Penuh

16 Mar

Ini lucu dan ironis. Ketika aku memutuskan untuk melakukan lompatan besar dalam hidup. Ternyata itu adalah hal biasa. Namun orang lain melihatnya sebagai suatu yang huge yang dapat diputuskan oleh seorang aku. Seperti kemarin. Aku memutuskan untuk resign dari tempatku bekerja. Buatku, hari ini harus diakui sebagai hari yang bahagia dan terbaik. Tentu terbaik dari hari kemarin. Spirit dan motivasi seperti ini sengaja dibangun untuk membuat kepala stay positive. Tetapi buat sebagian besar orang lain, keputusan ini cukup disayangkan.

Here is the story. Tidak gampang untuk menjadi positif. Tidak gampang untuk menjadi optimis. Read the rest of this entry »

 
 

Cinta Bukan sekedar Romansa

28 Feb

Doa tidak mampu dipaksa.Tidak bisa mengada-ngada. Tidak bisa dibilang ada namun tiada.  Namun takdir kita, semuanya diatur dalam orbit yang berputar selalu dalam lintasannya. Kecuali jika anda percaya bahwa hidup memang harus diperjuangkan, dan keikhlasan yang disanjung-sanjung itu, bukan pasrah tanpa berusaha, bukan pasrah dan sekedar berdoa. Aku yakin berdoa saja belum cukup, begitu juga berusaha tidak lengkap tanpa berdoa. Seperti hubungan orbit dan lintasannya.

Weekend selama 3 hari ini, tidak dapat dirasakan sepenuhnya oleh ku dan Andie. Masing-masing harus stand by di kantor masing-masing menyelesaikan report akhir bulan. Andie dengan report nya yang tak kumengerti apa, aku dengan hitung-hitungan gajiku. Oh ya aku lupa cerita. Di kantorku, Direktur dan para BOD akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan singkat. Jalan pendek yang mengambil keputusan untuk mengangkat Mr. Omong Banyak untuk menjadi A & F Manager. Sebenarnya yah dia tidak too bad. Hanya saja suami istri dalam kantor itu membuat struktur berantakan dan garis perintah dan tugas mencong-mencong. Terjebak antara kebingungan Apakah harus profesional mengikuti perintah bos atau tunduk akan perintah istri :P . Tapi sudahlah malas ikut campur, aku sudah mengambil keputusan sendiri mengenai kondisi ini. Semenjak masuk ke company ini dan tidak banyak yang dapat diubah baik kultur dan kebiasaan, sistem dan regulasi, aku memutuskan untuk segera hengkang saja. Singkatnya , bos baru kebiasaan baru. Dan aku terjebak di tengah libur untuk segera berkonsolidasi dengar Mr. Omong B.

Daripada pulang, mending aku seperti biasa menculik Andie. Dan langsung ingin ke mall aja. Janjian dengan kak Caca di mall jam 13.00. Aduh sial, Andie masih banyak report yang belum selesai, terpaksa aku dan kak Caca berkeliling shopping di mall. Ada something missing. Oh ya.. aku blom ceting seharian. Hehehe.. tumben. Dari BB langsung open YM. Ting ting.. masuk message baru. Dari Mr. SKSD pesannya . Berikut adalah pembicaraan singkat kami :

Read the rest of this entry »

 

Pesta Bujang

13 Feb

Hurmm pesta bujang ya, bukankah itu kebiasaan “bule” ?, tapi mungkin beberapa hari ini seseorang berusaha untuk memanfaatkan masa bujangnya untuk memikirkan kembali keputusannya untuk menikah.

Sebut saja Aji. Aji adalah salah seorang temanku yang khabarnya akan menikah. Ok, aku ralat. Aji adalah seorang yang pernah pedekate dengan ku. Dan langsung mengajak untuk menikah dalam waktu singkat. Apakah aku senang? Ternyata lebih kearah menakutkan. Singkat kata, aku lari sejauh-jauhnya. Melakukan yang perlu dilakukan. Mengeluarkan statement-statement yang membuatnya mengerti aku tidak dapat melakukannya dibawah tekanan. Sebaiknya menikah tidak berada dibawah tekanan. Paling tidak , menikah dalam versi ku.

Hebatnya, ternyata sembari melakukan pedekate dengan ku , Aji juga sedang pedekate dengan seorang perempuan di daerahnya tinggal. Perempuan ini sepertinya sudah lama dikenal dan memang sudah pedekate lama hanya saja Aji tidak yakin dengan nya. Menurut bahasanya adalah kurang merasa nyaman. Dan Aji merasakan kenyamanan yang melebihi ekspektasinya ketika bertemu denganku. Halah..

Read the rest of this entry »

 

Kosong ( Part I)

26 Jan

love-sick1-1

Ada kalanya kita menyerah kepada langit. Dan membiarkan tubuh melangkah melambat. Hanya menunggu bulan , hanya menunggu bintang.

Ada kalanya mimpi hanya tinggal mimpi, dan harapan pun mengikuti arus angin. Berlalu dari hadapan.

Ada kalanya, setarikan nafas cukuplah sudah menjadi alasan kita untuk tetap bertahan diatas bumi ini. Saat-saat kepak harap menjadi abu, kita pun lupa untuk kembali berharap, bahwa esok hari akan lahir anak harapan, bahwa esok hari mentari tetap akan bangkit dari peraduannya, dan esok hari masih dengan udara yang sama, seharusnya kita masih bisa bermimpi. Tapi… kita sudah lebih dahulu menyerah.

 
 

Sinetron Sabtu Malam

19 Dec

Menggelitik. Saya terdiam beberapa saat. Mendengarkannya bicara dan mengangguk-angguk seperti burung hantu saja. Hari sudah malam dan mata saya semakin perih menyetir tanpa kaca mata. Agak sedikit mengantuk, mau ngebut tapi jalanan jelek. Huh Medan, dengan jalanan yang berlubang dan tambalan aspal yang tak rata. Disebelah saya , sang adik sedang berkeluh kesah. Tentang kehidupan cinta yang berubah menjadi cerita dalam sinetron. Buruk dan bersambung. Mendayu-dayu tapi penuh semu. Intinya tak berujung dan lupa dimana pangkalnya.

Saya memberi saran, dia mendengarkan. Yang saya khawatirkan dia terlalu mendengarkan. Well perlu saya jelaskan saya dan adik saya tipe yang sangat berbeda. Benar-benar langit dan bumi. Bisa dibilang didalam kepala saya terlalu banyak simpang yang kusut dan puzzle berserakan. Perlu pembenahan tetapi lama-lama saya selalu rindu menyusun puzzle-puzzle berserakan itu. Keras, seorang pemimpi berat dan a loner. Adik saya, seorang yang logis, sederhana , dan pecinta rumah. Satu lagi dia penurut. Hehehe..

Read the rest of this entry »

 

Ah susahnya menjadi diri sendiri.

11 Oct

Kemarin dan kemarinnya lagi, pertanyaan yang sama terus mengusik pikiran saya yang kelabu. Yaitu apa yang membuat saya tidak berhenti, jika saya tidak menyukai sesuatu. Misalnya saja ; saya tidak suka jalan-jalan dengan si A, saya tidak suka menghabiskan waktu mengobrol dengan si B, saya tidak suka si C mengikuti kegiatan saya terus di dunia maya, dan banyak lagi yang lainnya. Dan saya datang dengan satu kesimpulan mengapa saya tak jua berhenti jika saya tidak menginginkan melakukan sesuatu, alasannya karena saya makhluk sosial yang mengenal toleransi. .

Beberapa minggu yang lalu saya berbicara dengan seseorang, tepatnya sedikit berargumentasi mungkin. Dia mengatakan “apakah salah mengatakan hal yang sejujurnya”. Saya jawab Sama sekali tidak salah. Hanya terkadang kejujuran keluar dalam bahasa yang terlalu tegas. Sehingga telinga yang mendengarnya , hati yang merasanya, tergores karena bahasa. Ah betapa mirisnya. Hanya untuk mendapatkan kejujuran, kita harus melalui garis luka. Jika ditilik lagi hal yang diperdebatkan ini, sebenarnya apa sih yang membuat kita tidak memilih jujur dibandingkan berbohong saja. Apalagi jika diikuti dengan alasan “demi kebaikan” . Bohong putih. Bohong sedikit. Biar tidak ada kekacauan. Biar tidak ada api kemarahan dimana-mana. Saya setuju dengan bohong putih jika tidak ada keterikatan emosional antara yang dibohongi dengan yang berbohong. Misalnya, berbohong kepada atasan sedang berada di Bank padahal sedang di jalan sehabis lihat butik baru. Sekali-kali bolehlah. Tidak ada keterikatan emosional disana, hanya keterikatan pekerjaan. Tetapi berbeda ceritanya jika kita memiliki keterikatan emosional. Bohong putih pun lama-lama bisa menjadi kelabu.

Read the rest of this entry »

 

To be continue …. Wid

03 Sep

Sedang malas menulis memakai bolpoin. Dalam jurnal yang tipis dan ndak penting itu. Mungkin saja sudah terlalu banyak doa disana. berbaris-baris. Dan masih saja akan terus bertambah. Itulah yang menjadi perdebatan malam ini. Doa yang to be continue dan tak berbatas.

Dulu ketika usia saya baru menginjak belasan dan awal-awal 20 an, saya senang sekali jika hanya sudah ada yang memberi perhatian. Buat saya itu berkah. Hingga sampai suatu ketika di umur 25an saya merasa, perhatian, pujian dan compliment lainnya membuat saya jengah. Karena 90% dari semua compliment itu tidak datang dengan gratis. Hal itu datang dengan aturan-aturan, datang dengan komplikasi hubungan yang membuat saya tidak dapat mengenali diri saya lagi saya berubah menjadi boneka pajangan. Karena terlalu banyak peraturan yang harus diikuti. Sampai suatu hari pada akhirnya karena keadaan , saya harus sendiri ….

Read the rest of this entry »