RSS
 

Archive for the ‘Fiksi’ Category

Buta

02 Mar

Jika mampu kuremuk dunia melipatnya menjadi dua

Agar tak lagi berbatas

Agar tak lagi berjarak

Kuseduh teh beraroma empedu..

Aku mengerti, jarak adalah alasan. Seperti yang selalu kita katakan kepada malam, yang memisahkan hari kita, seperti yang selalu kita katakan kepada laut yang mencerai tempat kita. Alasan selalu ada diantara cerita-cerita kelabu kita. Ada masanya saat hujan turun dan pelangi pun memburaikan mataku dari kegelapan. Betapa sinarnya, menghangatkan sore yang penghujan. Selalu kau salahkan gerimis. Selalu kau salahkan angin. Yang membawamu jauh. Yang membasahi dan meramus istana pasir di hatiku, katamu.

Dan hari itu, kita lagi-lagi mencari alasan. Akan kebersamaan. Akan keterikatan. Katamu semua punya alasan. Mengapa matahari dari timur dan rembulan lebih memilih di barat. Semuanya memiliki alasan. Begitu juga saat kau meninggalkanku dalam hujan. Kau punya alasan. Kau kambing hitamkan takdir. Kau ajak aku turut mengkambinghitamkan takdir. Seperti para pesakitan lainnya. Seperti para pengejar alasan lainnya.

Kalau takdir, mengapa kau datang dalam mimpi-mimpi malam hariku. Kalau takdir, mengapa kau coba meraihku dalam kerapuhanmu. Ah seandainya aku memiliki alasan untuk tidak berada disini. Tidak berada dimana kau selalu mendapatiku membangun istana pasir yang lain. Tidak berada di dekat hujanmu yang mengkorosi hatiku. Seandainya saja aku punya alasan.

Tapi tidak, tidak dalam seribu tahun. Tidak sampai cerita ini berakhir. Aku tidak memiliki alasan-alasan itu. Aku hanya tau hitam dan putih. Seperti cerita jaman dahulu. Hanya bergerak dalam frame warna yang jemu. Bukankah aku memiliki alasan untuk jemu?. Jemu menunggu mataharimu, jemu menjadi diriku, ah percuma saja kita bicara, kita buta aksara. Sedikit yang terdefinisi, lebih banyak aksara yang melukai. Tak ada yang lebih baik buat kita katamu. Tak ada pilihan. Seperti katamu. Selalu tidak ada pilihan. Tak ada pilihan selain meninggalkanku bersama hujanmu. Bersama argumentasi tak berdasarmu. Bersama kebisuan abadimu. Bersama pasukan pelangimu. Bersoraklah di kerajaan gemuruhmu. Dan meredam suaraku di dalamnya.

 
5 Comments

Posted in Fiksi

 

Do u remember meeting Cinderella?

21 Jun

Cahayanya yang tak terlalu terang, tentu menguntungkan untuk saya. Karena cahaya remang ini membantu saya untuk menyamarkan getaran bibir saya yang sedikit kelu. Hari itu , Saya hampir meninggalkan jantung saya dirumah dan dengan nekat pergi dengan berbekal baju baby yellow dan tubuh tak berjantung. Dengan harapan saya tak perlu repot-repot menyembunyikan degupnya. Mungkinkah? Tak mungkin jawabnya. Karena saya juga membutuhkannya malam itu untuk merasakan degup yang sesungguhnya, kala cinta say “hai”.

Ah ya.. malam semakin larut saja. Perut saya sudah keroncongan, tapi saya tahan. Untuk menyaksikan performance band sekaliber ini. Dicatat ya. Bukan band indonesia. Saya tidak mengatakan band indonesia tidak yahud, hanya saja band jazz ini sudah melegenda. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted in Fiksi