Buta

Jika mampu kuremuk dunia melipatnya menjadi dua

Agar tak lagi berbatas

Agar tak lagi berjarak

Kuseduh teh beraroma empedu..

Aku mengerti, jarak adalah alasan. Seperti yang selalu kita katakan kepada malam, yang memisahkan hari kita, seperti yang selalu kita katakan kepada laut yang mencerai tempat kita. Alasan selalu ada diantara cerita-cerita kelabu kita. Ada masanya saat hujan turun dan pelangi pun memburaikan mataku dari kegelapan. Betapa sinarnya, menghangatkan sore yang penghujan. Selalu kau salahkan gerimis. Selalu kau salahkan angin. Yang membawamu jauh. Yang membasahi dan meramus istana pasir di hatiku, katamu.

Dan hari itu, kita lagi-lagi mencari alasan. Akan kebersamaan. Akan keterikatan. Katamu semua punya alasan. Mengapa matahari dari timur dan rembulan lebih memilih di barat. Semuanya memiliki alasan. Begitu juga saat kau meninggalkanku dalam hujan. Kau punya alasan. Kau kambing hitamkan takdir. Kau ajak aku turut mengkambinghitamkan takdir. Seperti para pesakitan lainnya. Seperti para pengejar alasan lainnya.

Kalau takdir, mengapa kau datang dalam mimpi-mimpi malam hariku. Kalau takdir, mengapa kau coba meraihku dalam kerapuhanmu. Ah seandainya aku memiliki alasan untuk tidak berada disini. Tidak berada dimana kau selalu mendapatiku membangun istana pasir yang lain. Tidak berada di dekat hujanmu yang mengkorosi hatiku. Seandainya saja aku punya alasan.

Tapi tidak, tidak dalam seribu tahun. Tidak sampai cerita ini berakhir. Aku tidak memiliki alasan-alasan itu. Aku hanya tau hitam dan putih. Seperti cerita jaman dahulu. Hanya bergerak dalam frame warna yang jemu. Bukankah aku memiliki alasan untuk jemu?. Jemu menunggu mataharimu, jemu menjadi diriku, ah percuma saja kita bicara, kita buta aksara. Sedikit yang terdefinisi, lebih banyak aksara yang melukai. Tak ada yang lebih baik buat kita katamu. Tak ada pilihan. Seperti katamu. Selalu tidak ada pilihan. Tak ada pilihan selain meninggalkanku bersama hujanmu. Bersama argumentasi tak berdasarmu. Bersama kebisuan abadimu. Bersama pasukan pelangimu. Bersoraklah di kerajaan gemuruhmu. Dan meredam suaraku di dalamnya.

March 2nd, 2010 by Widi | 4 Comments »

Cinta Bukan sekedar Romansa

Doa tidak mampu dipaksa.Tidak bisa mengada-ngada. Tidak bisa dibilang ada namun tiada.  Namun takdir kita, semuanya diatur dalam orbit yang berputar selalu dalam lintasannya. Kecuali jika anda percaya bahwa hidup memang harus diperjuangkan, dan keikhlasan yang disanjung-sanjung itu, bukan pasrah tanpa berusaha, bukan pasrah dan sekedar berdoa. Aku yakin berdoa saja belum cukup, begitu juga berusaha tidak lengkap tanpa berdoa. Seperti hubungan orbit dan lintasannya.

Weekend selama 3 hari ini, tidak dapat dirasakan sepenuhnya oleh ku dan Andie. Masing-masing harus stand by di kantor masing-masing menyelesaikan report akhir bulan. Andie dengan report nya yang tak kumengerti apa, aku dengan hitung-hitungan gajiku. Oh ya aku lupa cerita. Di kantorku, Direktur dan para BOD akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan singkat. Jalan pendek yang mengambil keputusan untuk mengangkat Mr. Omong Banyak untuk menjadi A & F Manager. Sebenarnya yah dia tidak too bad. Hanya saja suami istri dalam kantor itu membuat struktur berantakan dan garis perintah dan tugas mencong-mencong. Terjebak antara kebingungan Apakah harus profesional mengikuti perintah bos atau tunduk akan perintah istri :P. Tapi sudahlah malas ikut campur, aku sudah mengambil keputusan sendiri mengenai kondisi ini. Semenjak masuk ke company ini dan tidak banyak yang dapat diubah baik kultur dan kebiasaan, sistem dan regulasi, aku memutuskan untuk segera hengkang saja. Singkatnya , bos baru kebiasaan baru. Dan aku terjebak di tengah libur untuk segera berkonsolidasi dengar Mr. Omong B.

Daripada pulang, mending aku seperti biasa menculik Andie. Dan langsung ingin ke mall aja. Janjian dengan kak Caca di mall jam 13.00. Aduh sial, Andie masih banyak report yang belum selesai, terpaksa aku dan kak Caca berkeliling shopping di mall. Ada something missing. Oh ya.. aku blom ceting seharian. Hehehe.. tumben. Dari BB langsung open YM. Ting ting.. masuk message baru. Dari Mr. SKSD pesannya . Berikut adalah pembicaraan singkat kami :

Read more…

February 28th, 2010 by Widi | 2 Comments »

Sudah lama

Sudah lama sekali… semenjak senja itu

Tertidur dibuai angin.

Terbangun… dengan secangkir kopi

Dan semangkuk penuh impianku tentangmu

Dan serentetan senyum membingkainya

Sudah lama sekali … dan gambarnya mulai mengabu biru

Menguning usang..

Mungkinkah benar?

Abrasi yang kau ceritakan?

Menyapu habis mimpiku tentang bintang?

February 21st, 2010 by Widi | 2 Comments »

Pesta Bujang

Hurmm pesta bujang ya, bukankah itu kebiasaan “bule” ?, tapi mungkin beberapa hari ini seseorang berusaha untuk memanfaatkan masa bujangnya untuk memikirkan kembali keputusannya untuk menikah.

Sebut saja Aji. Aji adalah salah seorang temanku yang khabarnya akan menikah. Ok, aku ralat. Aji adalah seorang yang pernah pedekate dengan ku. Dan langsung mengajak untuk menikah dalam waktu singkat. Apakah aku senang? Ternyata lebih kearah menakutkan. Singkat kata, aku lari sejauh-jauhnya. Melakukan yang perlu dilakukan. Mengeluarkan statement-statement yang membuatnya mengerti aku tidak dapat melakukannya dibawah tekanan. Sebaiknya menikah tidak berada dibawah tekanan. Paling tidak , menikah dalam versi ku.

Hebatnya, ternyata sembari melakukan pedekate dengan ku , Aji juga sedang pedekate dengan seorang perempuan di daerahnya tinggal. Perempuan ini sepertinya sudah lama dikenal dan memang sudah pedekate lama hanya saja Aji tidak yakin dengan nya. Menurut bahasanya adalah kurang merasa nyaman. Dan Aji merasakan kenyamanan yang melebihi ekspektasinya ketika bertemu denganku. Halah..

Read more…

February 13th, 2010 by Widi | 6 Comments »

Kosong ( Part I)

love-sick1-1

Ada kalanya kita menyerah kepada langit. Dan membiarkan tubuh melangkah melambat. Hanya menunggu bulan , hanya menunggu bintang.

Ada kalanya mimpi hanya tinggal mimpi, dan harapan pun mengikuti arus angin. Berlalu dari hadapan.

Ada kalanya, setarikan nafas cukuplah sudah menjadi alasan kita untuk tetap bertahan diatas bumi ini. Saat-saat kepak harap menjadi abu, kita pun lupa untuk kembali berharap, bahwa esok hari akan lahir anak harapan, bahwa esok hari mentari tetap akan bangkit dari peraduannya, dan esok hari masih dengan udara yang sama, seharusnya kita masih bisa bermimpi. Tapi… kita sudah lebih dahulu menyerah.

January 26th, 2010 by Widi | 8 Comments »

Kanvas jiwa (kering)

Jangan berdiri selayaknya tugu

Kau bukan sesuatu utk diingat

Bolehlah kau beranjak bersama senjamu yang berlari kencang mengejar mentari

Bolehlah kau menghilang bersama embunmu yang menguap seiring garangnya matahari

Kau adalah hari senin yang akan berlalu setelah selasa menjelang

Sayang sekali kasihmu hanya sampai jam 24 malam

Aku berada disini 7 hari seminggu dan seterusnya

Kau disana dengan piyama barumu dan mimpi bersamaku

Bukankah itu kejam? Bermimpi dan terbangun tanpa namaku tersebut?

Bukankah itu kejam, ku bermimpi dan terbangun dan hanya namamu yang tersebut?

Ku rasa … Bolehlah kau sekarang beranjak dari beranda hatiku…

Dan nikmati senjamu menghirup angin ,,,,

Dan biarkan kanvas jiwaku mengering di balik punggungmu

Jangan perduli.

January 6th, 2010 by Widi | 2 Comments »

Kangen(mu)

Jika angin saja yang menyampaikannya kepadaku di malam ini

Aku akan menamparnya

Dan menyuruhnya kembali membawa pesanku utkmu

Jangan berani-berani merinduiku hanya dari balik teropong hidupmu

Hadapi aku.

January 3rd, 2010 by Widi | 3 Comments »

Ada Apa dengan Gravitasi

Ada apa dengan gravitasi

Aku berjalan terbalik

Kepala dibawah kaki di atas

Apa yang dibawah keatas, yang diatas kebawah


Ada apa dengan gravitasi

Aku tak bergerak melepas

Aku bergerak maju mundur

Aku berputar dalam poros


Ada apa dengan gravitasi dan hatimu yang berat

Ada apa dengan cinta dan kebencianmu yang membungkam

Ada apa dengan gravitasi sehingga kau bergerak

Maju dan mundur

Maju dan mundur


Ada apa dengan gravitasi

Yang melahirkan begitu banyak simpang di hatiku, di hatimu

Dan berlaripun tak ada gunanya.

January 3rd, 2010 by Widi | No Comments »

Farewell to old 2009

2009, bukan tahun yang tenang. Tahun yang sangat sibuk untuk saya. Pekerjaan, percintaan, sahabatan, intrik, politik, dan surat kaleng. Heheheh… Tahun ini rasanya saya begitu disibukkan akan situasi nano-nano. Asam , manis, asin yang harus saya telan bulat-bulat terkadang, namun juga terkadang harus ditumpahkan karena terlalu penuh dan ingin dilupakan. Dan Tahun ini kami mendapatkan surat kaleng. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

30 Desember 2009, saya masih bekerja tanpa jeda. Inginnya saya mengeluh dan protes saja. rasanya seberat apapun, memaksa seperti apapun saya bekerja, ternyata itu tidak pernah cukup untuk semuanya. Orang-orang di kantor. Bos, staf, orang-orang yang berasa bos, semuanya menyerang dari berbagai sudut. Seandainya saja ini adalah perang. Di akhir tahun saya bertahan, namun terluka parah. Malah saya sedang dalam kondisi mempertimbangkan untuk menyerah saja. Memang tidak mungkin menyenangkan semua orang. Tapi tidak perlu menjadi “bitchy” juga bukan?. Otodidak, fast learner, saya menjadi terbiasa dengan itu semua. Bertahun mengais rejeki di tempat yang sama, menjadikan saya pribadi yang sedikit berbeda. Tetapi justru tantangan memang berada di Tahun 2009.

Read more…

December 31st, 2009 by Widi | 1 Comment »

Sinetron Sabtu Malam

Menggelitik. Saya terdiam beberapa saat. Mendengarkannya bicara dan mengangguk-angguk seperti burung hantu saja. Hari sudah malam dan mata saya semakin perih menyetir tanpa kaca mata. Agak sedikit mengantuk, mau ngebut tapi jalanan jelek. Huh Medan, dengan jalanan yang berlubang dan tambalan aspal yang tak rata. Disebelah saya , sang adik sedang berkeluh kesah. Tentang kehidupan cinta yang berubah menjadi cerita dalam sinetron. Buruk dan bersambung. Mendayu-dayu tapi penuh semu. Intinya tak berujung dan lupa dimana pangkalnya.

Saya memberi saran, dia mendengarkan. Yang saya khawatirkan dia terlalu mendengarkan. Well perlu saya jelaskan saya dan adik saya tipe yang sangat berbeda. Benar-benar langit dan bumi. Bisa dibilang didalam kepala saya terlalu banyak simpang yang kusut dan puzzle berserakan. Perlu pembenahan tetapi lama-lama saya selalu rindu menyusun puzzle-puzzle berserakan itu. Keras, seorang pemimpi berat dan a loner. Adik saya, seorang yang logis, sederhana , dan pecinta rumah. Satu lagi dia penurut. Hehehe..

Read more…

December 19th, 2009 by Widi | 2 Comments »