Kosong ( Part I)

love-sick1-1

Ada kalanya kita menyerah kepada langit. Dan membiarkan tubuh melangkah melambat. Hanya menunggu bulan , hanya menunggu bintang.

Ada kalanya mimpi hanya tinggal mimpi, dan harapan pun mengikuti arus angin. Berlalu dari hadapan.

Ada kalanya, setarikan nafas cukuplah sudah menjadi alasan kita untuk tetap bertahan diatas bumi ini. Saat-saat kepak harap menjadi abu, kita pun lupa untuk kembali berharap, bahwa esok hari akan lahir anak harapan, bahwa esok hari mentari tetap akan bangkit dari peraduannya, dan esok hari masih dengan udara yang sama, seharusnya kita masih bisa bermimpi. Tapi… kita sudah lebih dahulu menyerah.

January 26th, 2010 by Widi | 6 Comments »

Kanvas jiwa (kering)

Jangan berdiri selayaknya tugu

Kau bukan sesuatu utk diingat

Bolehlah kau beranjak bersama senjamu yang berlari kencang mengejar mentari

Bolehlah kau menghilang bersama embunmu yang menguap seiring garangnya matahari

Kau adalah hari senin yang akan berlalu setelah selasa menjelang

Sayang sekali kasihmu hanya sampai jam 24 malam

Aku berada disini 7 hari seminggu dan seterusnya

Kau disana dengan piyama barumu dan mimpi bersamaku

Bukankah itu kejam? Bermimpi dan terbangun tanpa namaku tersebut?

Bukankah itu kejam, ku bermimpi dan terbangun dan hanya namamu yang tersebut?

Ku rasa … Bolehlah kau sekarang beranjak dari beranda hatiku…

Dan nikmati senjamu menghirup angin ,,,,

Dan biarkan kanvas jiwaku mengering di balik punggungmu

Jangan perduli.

January 6th, 2010 by Widi | 2 Comments »

Kangen(mu)

Jika angin saja yang menyampaikannya kepadaku di malam ini

Aku akan menamparnya

Dan menyuruhnya kembali membawa pesanku utkmu

Jangan berani-berani merinduiku hanya dari balik teropong hidupmu

Hadapi aku.

January 3rd, 2010 by Widi | 3 Comments »

Ada Apa dengan Gravitasi

Ada apa dengan gravitasi

Aku berjalan terbalik

Kepala dibawah kaki di atas

Apa yang dibawah keatas, yang diatas kebawah


Ada apa dengan gravitasi

Aku tak bergerak melepas

Aku bergerak maju mundur

Aku berputar dalam poros


Ada apa dengan gravitasi dan hatimu yang berat

Ada apa dengan cinta dan kebencianmu yang membungkam

Ada apa dengan gravitasi sehingga kau bergerak

Maju dan mundur

Maju dan mundur


Ada apa dengan gravitasi

Yang melahirkan begitu banyak simpang di hatiku, di hatimu

Dan berlaripun tak ada gunanya.

January 3rd, 2010 by Widi | No Comments »

Farewell to old 2009

2009, bukan tahun yang tenang. Tahun yang sangat sibuk untuk saya. Pekerjaan, percintaan, sahabatan, intrik, politik, dan surat kaleng. Heheheh… Tahun ini rasanya saya begitu disibukkan akan situasi nano-nano. Asam , manis, asin yang harus saya telan bulat-bulat terkadang, namun juga terkadang harus ditumpahkan karena terlalu penuh dan ingin dilupakan. Dan Tahun ini kami mendapatkan surat kaleng. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

30 Desember 2009, saya masih bekerja tanpa jeda. Inginnya saya mengeluh dan protes saja. rasanya seberat apapun, memaksa seperti apapun saya bekerja, ternyata itu tidak pernah cukup untuk semuanya. Orang-orang di kantor. Bos, staf, orang-orang yang berasa bos, semuanya menyerang dari berbagai sudut. Seandainya saja ini adalah perang. Di akhir tahun saya bertahan, namun terluka parah. Malah saya sedang dalam kondisi mempertimbangkan untuk menyerah saja. Memang tidak mungkin menyenangkan semua orang. Tapi tidak perlu menjadi “bitchy” juga bukan?. Otodidak, fast learner, saya menjadi terbiasa dengan itu semua. Bertahun mengais rejeki di tempat yang sama, menjadikan saya pribadi yang sedikit berbeda. Tetapi justru tantangan memang berada di Tahun 2009.

Read more…

December 31st, 2009 by Widi | 1 Comment »

Sinetron Sabtu Malam

Menggelitik. Saya terdiam beberapa saat. Mendengarkannya bicara dan mengangguk-angguk seperti burung hantu saja. Hari sudah malam dan mata saya semakin perih menyetir tanpa kaca mata. Agak sedikit mengantuk, mau ngebut tapi jalanan jelek. Huh Medan, dengan jalanan yang berlubang dan tambalan aspal yang tak rata. Disebelah saya , sang adik sedang berkeluh kesah. Tentang kehidupan cinta yang berubah menjadi cerita dalam sinetron. Buruk dan bersambung. Mendayu-dayu tapi penuh semu. Intinya tak berujung dan lupa dimana pangkalnya.

Saya memberi saran, dia mendengarkan. Yang saya khawatirkan dia terlalu mendengarkan. Well perlu saya jelaskan saya dan adik saya tipe yang sangat berbeda. Benar-benar langit dan bumi. Bisa dibilang didalam kepala saya terlalu banyak simpang yang kusut dan puzzle berserakan. Perlu pembenahan tetapi lama-lama saya selalu rindu menyusun puzzle-puzzle berserakan itu. Keras, seorang pemimpi berat dan a loner. Adik saya, seorang yang logis, sederhana , dan pecinta rumah. Satu lagi dia penurut. Hehehe..

Read more…

December 19th, 2009 by Widi | 2 Comments »

“Ruang”

Apa susahnya menyediakan ruang curhat antara staf dan manajemen. Apa susahnya memberikan ruang bagi anak-anak yang ingin menjadi dirinya sendiri. Seberapa susah untuk memberikan ruang gerak untuk istri-istri yang ingin sedikit mengekspresikan diri. Dan seberapa sulit menyediakan ruang bagi pasangan jiwa yang ingin mencintai dengan caranya sendiri. Dan seberapa sulit menyediakan ruang untuk memiliki quality time bersama pasangan? . jawabannya tidak gampang. Ternyata menyediakan ruang memang ruwet. Sesibuk itukah hari-hari kita. Sepenuh itukah jadwal dalam kepala kita. Sesesak itukah hati kita untuk merasa. Menyediakan “ruang” menjadi satu fenomena keterpaksaan. Tragis.

Ngeblog, tadinya adalah ruang curhat. Bukan rahasia, setiap peblogger pada umumnya memulai aktifitas blogging nya dengan curhatan. Masalah pekerjaan, masalah rumah tangga, pacaran, relationship dll. Tapi belakangan blog banyak fungsinya. Ada yang jualan online. Ada yang sharing knowledge. Ada yang ajang promosi diri, profile announcement bagi publik figur. Tetapi ,entah kenapa juga belakangan ini saya jadi jarang punya waktu untuk bersama-sama memanfaatkan “ruang” yang tersedia untuk ngeblog. Saya namakan “no chemistry involved”. Seperti syarat memiliki hubungan dengan seseorang saja, chemstry is a must. Beberapa waktu saya sempat berpikir-pikir. Apa sih sebabnya saya shut down begini. Malas Curhat. Malas nulis. Malah lebih gawat malas untuk observasi. Malas menarik konklusi. Benar-benar mati suri. Beberapa topik terbengkalai lunglai terpuruk di notebook. Apakah passion saya menurun?

Read more…

December 9th, 2009 by Widi | 3 Comments »

Landinglah di kota kami … “ Takengon “

Dinginnnnnn….

Begitu sampai di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, tim harus sedikit menahan napas. Kabut tebal menutupi jalan kami menuju Takengon, Aceh Tengah. Jalan menuju kesana memang melalui jalan berkelok di pegunungan. Jarak pandang hanya kurang lebih 5 meter saja. Padahal hari sudah mau gelap. Dan dingin sudah mulai menggoda kulit. Saya langsung membayangkan, nasi putih hangat dengan asap mengepul, ikan panggang dan sambel kecap. Hahahah… dingin membuat perut kriuk-kriuk. Tapi saya harus lebih bersabar karena jalanan licin. Hal itu juga membuat sebal, karena kabut saya otomatis tidak dapat melihat pemandangan sekitar.

Read more…

November 29th, 2009 by Widi | 2 Comments »

Marathon !! ( Banda Aceh )

Hari pertama di Banda setelah terbang 45 menit dari Medan, saya dihibur dengan mengunjungi pantai. Lampu’uk Beach. Halah, kenapa juga jadi Bahasa Inggris. Saya akhirnya menjejakkan kaki di pantai ini. Dengan ditemani oleh seorang teman yang melarikan diri dari kantornya. Sudah lama dengar nama pantai ini. Tapi setelah berulang-ulang kali ke kota ini saya selalu tidak sempat singgah. Dan kali ini terbayar sudah. Lampu’uk di depan mata. Jangan membayangkan pantai ini memiliki resort ya. Bayangkanlah pantai pribadi yang kita miliki di dekat lingkungan rumah kita. Hanya saja yang merusak pemandangan adalah, pondok-pondok tempat minum air kelapa muda yang sangat mengganggu. Kesannya rame dan tak beraturan.

Read more…

November 22nd, 2009 by Widi | 2 Comments »

Preparation

Sambil mempacking semua kebutuhan saya untuk perjalanan 9 hari saya ini, saya banyak berpikir. Bagaimana jika akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukannya saja. Dalam konteks, keluar dari kotak yang sudah membuat saya kehilangan siapa diri saya sedikit demi sedikit namun pasti. Sejujurnya, saya lelah. Itu saja simple dan pasti. Hal yang selalu berseliweran selama 6 bulan ini adalah istirahat. Istirahat dari semua kerumitan, kantor dan pribadi.

Read more…

November 17th, 2009 by Widi | 1 Comment »