Kosong ( Part I)
Ada kalanya kita menyerah kepada langit. Dan membiarkan tubuh melangkah melambat. Hanya menunggu bulan , hanya menunggu bintang.
Ada kalanya mimpi hanya tinggal mimpi, dan harapan pun mengikuti arus angin. Berlalu dari hadapan.
Ada kalanya, setarikan nafas cukuplah sudah menjadi alasan kita untuk tetap bertahan diatas bumi ini. Saat-saat kepak harap menjadi abu, kita pun lupa untuk kembali berharap, bahwa esok hari akan lahir anak harapan, bahwa esok hari mentari tetap akan bangkit dari peraduannya, dan esok hari masih dengan udara yang sama, seharusnya kita masih bisa bermimpi. Tapi… kita sudah lebih dahulu menyerah.
January 26th, 2010 by Widi | 6 Comments »