Rasanya sulit dipercaya. Waktu akan menyembuhkan luka. Namun, jika waktu akan membuat ingatan menjadi kabur mengenai suatu peristiwa , ya saya percaya.

Kemarin saya bicara dengan Ang. Saya lupa kapan kami bicara-bicara tentang hati. saya suka berteman dengannya karena terkadang saya tidak perlu mengeluarkan banyak kata-kata. Kita bisa tertawa atau nangis bersama. Orang-orang selalu mengatakan saya dan Ang adalah pasangan. Ang sayang dengan saya, Cuma memang saya terlalu keras kepala. Dan saya perduli dengan hidup Ang, hanya kadang benci dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Namun kami adalah keluarga. Dan waktu membuat ingatan saya tentang kemarahan menjadi kabur. Dan itu benar adanya.
Ang sudah seperti adik saja. Ang sering minta uang, sering minta dibeliin rokok, bahkan nangis bareng waktu dia putus sama pacarnya yang kejam itu. Hehehe…. pacar-pacar saya suka cemburu melihat kedekatan saya dengan Ang. Sulit dijelaskan kenapa saya selalu membela Ang. Seperti yang saya katakan, Ang seperti adik saja. Keluarga pasti akan saling membela bukan?
Beberapa waktu yang lalu saya kecewa berat dengan Ang. Layaknya seorang kakak yang terluka egonya. Saya melihat Ang selalu take it for granted dengan saya. Sebagai kakak yang gila memberi pengaruh yang baik, saya yakin Ang boring berat. Akhirnya kami menjadi dua orang asing yang saling malas memberi kabar. Apalagi ketika Ang sudah tidak lagi berada di kota yang sama. Saya memutuskan untuk tidak memperdulikan Ang lagi. Saya merasa Ang sudah dapat mandiri. Sudah bekerja dan tidak lagi memerlukan saya. Tidak lagi perduli kalau sayalah yang sering mengangkat telepon tengah malamnya. Tidak lagi perduli bahwa dialah dulu yang selalu membela saya di depan laki-laki “aneh” lainnya. Memberi pandangan yang berbeda, sehingga saya mengerti harus bersikap apa. Kami memutuskan tak lagi saling perduli.
Apalagi setelah Ang bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang marah-marah selalu. Perempuan yang selalu marah Ang pergi dengan saya. Saya yakin Ang akhirnya merasakan cinta. Sesuatu yang mahal buat seorang Ang. Bener, Ang memang tidak pernah serius dalam berhubungan. Seperti laki-laki berpikiran ringan lainnya. Tidak mau direpotkan dengan segala macam konsekuensi relationship. Itulah Ang. Tapi tidak demikian setelah bertemu dengan perempuan itu. Namun malang tak dapat ditolak, Ang patah hati. mungkin memang sudah begitu rumusannya. Setiap orang yang jatuh cinta akan merasakan sakit bukan kepalang. Ang pun meradang.
Di sela-sela cerita patah hati Ang, saya telah mendahului kisahnya. Jadilah kami dua orang yang memiliki hati yang patah pada saat itu. Saya memutuskan tidak ingin berbagi. Dan Ang memutuskan untuk fokus dengan usahanya menjadi manusia yang lebih berguna bagi dirinya. Saya tenggelam dalam pekerjaan. Dan Ang tenggelam dalam pencarian jati diri. Lebih banyak tidur dan merenung. Sampai suatu hari doanya terkabul. Ang akhirnya mendapatkan pekerjaan di daerah yang sama dengan perempuan yang telah mematahkan hatinya. Sayangnya doa itu dibuat pada saat mereka masih bersama. Dan jika sekarang doa itu terkabul, semuanya jadi terlambat. Bukan hanya terlambat tapi menjadi menyakitkan.
Mungkin memang benar kata-kata orang. Hati-hati dengan doamu sendiri. Saya pun jadi ikut-ikutan parno. Bagaimana rasanya tidak berharap dan berdoa. Atau bagaimana caranya menghadapi doa yang terkabul namun tidak tepat. Ntahlah. Yang Saya tahu Ang, sudah menjadi orang yang datar. Apatis. Apakah harapan dan doa justru akan melahirkan sikap apatis?
Karena Ang apatis, dan saya menutup diri, kami menjadi saling berasumsi. Komunikasi yang jelek, membuat semuanya menjadi lebih buruk. Saya sibuk, dia sibuk. Susah sekali untuk berjanji bertemu. Dan telepon pun tak membantu. Semuanya menjadi garing. Saya mendapati , kami kehilangan kemampuan untuk mengerti tanpa bicara. Saya mulai kesal dan berasumsi. Dia mulai lelah dan berasumsi. Ketika semua asumsi ini terbuka dalam satu percakapan, akhirnya ini menjadi satu fakta yang lucu. Paling tidak menurut kacamata saya.
Ang berpikir saya punya pacar. Saya pikir Ang sibuk dan seperti biasa lupa, alias tak perduli. Asumsi, Salah satu bentuk kegiatan yang berbahaya jika tidak dibarengi dengan bukti dan fakta. Apalagi isi kepala setiap manusia kan berbeda. Bicara sore ini dengan Ang membuka satu tabir yang selama ini sama-sama tidak ada yang ingin membukanya. Bicara sore ini adalah bicara dari hati dengan apa adanya. Kalau saya dan Ang kangen dengan “kami” , kangen dengan kegiatan ngobrol, ngopi-ngopi bareng, curhat tentang pacar masing-masing, dan sharing tips. Kalau selama ini saya berasumsi dia pelit padahal sebenarnya Ang mulai menabung untuk kuliah, yang dulu tidak akan pernah dia lakukan untuk menjadi mandiri. Saya akui saya cukup salut. Kenyataannya berdoa dan berharap bukan kegiatan mitos belaka. Berdoa dan berharap mungkin bisa menjadi kerangka dari perencanaan bertahan hidup. Semoga kita semua diselamatkan agar tidak menjadi manusia-manusia apatis , yang tak percaya bahwa selalu ada harapan bagi orang-orang yang percaya untuk selalu berdoa. Dan yang penting sekali lagi semoga saya tidak selalu berasumsi. Saya sudah salah.
Pacar, husband, wife, kids, job.. should be doesn’t matter for “friendship”